Sabtu, 09 November 2013

PENGEMBANGAN HAKEKAT MANUSIA


BAB I
PENDAHULUAN

Potensi kemanusiaan merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Manusia memiliki ciri khas yang secara prinsipiil berbeda dari hewan.Ciri khas manusia yang membedakannya dari hewan terbentuk dari kumpulan terpadu dari apa yang disebut sifat hakikat manusia. Disebut sifat hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan.
 Oleh karena itu, sangat strategis jika pembahasan tentang hakekat manusia ditempatkan pada seluruh pengkajian tentang pendidikan, dengan harapan menjadi titik tolak bagi paparan selanjutnya.
Untuk mencapai pengetahuan hakikat manusia tersebut maka akan dikemukakan materi yang meliputi : arti dan wujud sifat hakikat manusia, dimensi dimensinya, pengembangan dimensi tersebut dan sosok manusia Indonesia seutuhnya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. HAKEKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGANNYA

            Sifat hakekat manusia menjadi bidang kajian filsafat,khusnya filsafat antrofologi.hal ini menjadi keharusan oleh karena pendidikan bukanlah sekadar soal peraktek melainkan peraktek yang berlandaskan dan bertujuan.Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya filosofis normatif.Besifat filosofis karena untuk mrndapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar,sistematis dan universal tentang ciri hakiki manusia.Bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur,dan hal itu menjadi keharusan.

1. Pengertian Sifat Hakekat Manusia 
Sifat hakekat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik,yang secara prinsipil (jadi bukan   hanya gradual)membedakan manusia dari hewan.
2. Wujud Sifat Hakekat Manusia 
Mengenai wujud sifat hakekat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan),akan dipaparkan oleh paham eksistensialisme.Denagn tujuan agar menjadi masukan dalam membenahi konsep    pendidikan.
3. Kemampuan Menyadari Diri
Kaum rasional menunjuk kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia.Berkat adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia,maka manusia menyadari bahwa dirinya(akunya)memiliki ciri khas atau karakteristik diri.Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain(ia,mereka) dan dengan no-aku(lingkungan fisik)di sekitarnya.
4. Kemampuan Bereksistensi
            Kemampuan bereksistensi adalah kemampuan menempatkan diri dan menerobos. 
    Justru karena manusia memiliki kemampuan bereksistensi inilah maka pada manusia terdapat    unsur kebebasan .Dengan kata lain,adanya manusia bukan”berada”seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan,melainkan “meng-ada”di muka bumi(drijarkra,1962:61-63).Jika seandainya pada diri manusia ini tidak terdapat kebebasan,maka manusia itu tidak lebih dari hanya sekedar “esensi” belaka,artinya ada hanya sekedar “ber-ada”dan tidak prnah “meng-ada” atau “ber-eksistensi”.Adanya kemampuan bereksistensi inilah pula yang membedakan manusia sebagai mahkluk human dari hewan selaku mahkluk infra human,dimana hewan menjadi orderdil dari lingkungan ,sedangkan manusia menjadi manajer terhadap lingkungannya. 
5. Kata Hati(conscience of man)
Kata hati atau conscience of man juga sering disebut dengan istilah hati nurani,lubuk hati,suara hati, pelita hati,dan sebagainya.Conscience ialah”pengertian yang ikut serta “atau “pengertian yang mengikut prtbuatan”.Manusia memiliki pengertian yang menyertai tentang apa yang akan ,yang sedang ,dan yang telah dibuatnya,bahkan mengerti juga akibatnya,bagi manusia sebagia manusia.
6. Moral 
Jika kata hati diartikan sebagai bentuk pengertian yang menyertai perbuatan,maka yang  dimaksud dengan moral (yang sering juga disebuat etiket)adalah perbuatan itu sendiri.
Disini tampak bahwa masih ada jarak antara kata hati dengan moral.Artinya seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam belum otomatis perbuatannya merupakan realisasi dari kata hatinya itu.Untuk menjembatani jarak yang mengantarai keduanya masih ada aspek yang diperlukan yaitu kemauan.Bukankah banyak orang yang memiliki kecerdasan akal tetapi tidak cukup memiliki moral.Itulah sebabnya maka pendidikan moral juga sering disebut pendidikan kemauan,yang oleh M.J.Langevied dinamakan De opvoedeling omzichzelfswil. 
7. Tanggung Jawab 
Kesedian untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang menuntut jawab,merupakan pertanda dari sifat orang yang bertanggung jawab.Wujud bertanggung jawab bermacam-macam.Ada tanggung jawab kepada diri sendiri,tanggung jawab kepada masyarakat,dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Dengan demikian tanggung jawab dapat diartikan sebagai keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan sesuai dengan tuntuna kodrat manusia,dan bahwa hanya karena itu perbuatan tersebut dilakukan,sehingga sangsi apapun yang dituntutkan(oleh kata hati,oleh  masyarakat,oleh norma-norma agama),diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan.
 8. Rasa Kebebasan
Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu),tetapi sesuai dengan tuntunan   kodrat manusia.Kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya memang berlangsung dlam keterikatan.Artinya,bebas berbuat sepanjang tidak bertentangan dengan tuntunan kodrat manusia.Kemerdekaan berkaitan erat dengan kata hati dan moral.Seseorang mengalami rasa merdeka apabila segenap perbuatanya (moralnya)sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kata hatinya,yaitu kata hati yang sesuai dengan kodrat manusia.

B.DIMENSI-DIMENSI HAKEKAT MANUSIA SERTA POTENSI,KEUNIKAN,DAN    DINAMIKANYA

Ada 4 macam dimensi yang akan dibahas,yaitu:
1. Dimensi Keindividualan 
Lysen mengartiakn individu sebagai”orang-seorang”,sesuatu yang merupakn suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi(in devide).Sedangkan kata M.J.Langeveld(seorang pakar pendidikan yang tersohor di Negeri Belanda)yang mengatakan bahwa setiap orang memiliki individualitas (M.J.langeveld,1955:54).
Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupan ciri yang yang sangat esensial dari adnya individualitas pada diri manusia.M.J.langeveld menyatakan bahwa setiapa anak memiliki dorongan unetuk mandiri yang sangat kuat,meskipun disisi lain pada anak terdapat rasa tidak berdaya,sehingga memerlukan pihak lain(pendidik)yang dapat dijadikan tempat bergantung untuk memberi perlindungan dan bimbingan.
 2.Dimensi Kesosialan
    Setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi social Demikian
    kata(M.J.Langeveld,1955:54).Pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap anak dikaruniai     benih kemungkina untuk bergaul.Artinya setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakekatnya didalamnya terkandung unsur saling memberi dan menerima
Immnauel Khan seorang filosof tersohor bangsa Jerman menyatakan: Manusia hanya bisa menjadi manusia jika berada diantara manusia.Dikatakan demikian karena orang dapat mengembangkan individualitasnya didalam pergaulan sosial,Artinya seseorang mengembangkan kegemarannya,sikapnya,cita-citanya didalam interaksi dengan sesamanya.
     Seseorang berkesempatan untuk belajar dari orang lain,mengidentifikasi sifat-sifat yang dikagumi dari orang lain untuk dimilikinya,serta menolak sifat-sifat yang tidak dicocokinya.hanya didalam berinterkasi dengan sesamnya ,dalam saling menerima dan memberi,seseorang menyadari dan menghayati kamanusiannya.
 3.Dimensi Kesusilaan 
    Susila bersal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi.Akan tetapi,didalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang panats jika di dalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung.Karena maka pengertian susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih.Dalam bahasa ilmiah sering digunakan dua macam istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu etiket(persoalan kepantasan dan kesopanan)dan etika(persoalan kebaikan)
Maka dapat dikatakan bahwa kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket.Persoalan kesusilaan sesalu berhubungan erat dengan nilai-nilai.Pada hakekatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila,serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusai itu adalah makhluk susila.Drijarkara mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai,menghayati,dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatan.
Nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan,keluhuran,kemuliaan dan sebagainya,sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup.Dilaihat aslanya dari mana nilai-nilai itu diproduk dibedakan atas tiga macam,yaitu:Nilai otonom yang bersifat individual(kebaikan menurut pendapat seseorang,nilai heteronom yang bersifat kolektif(kebaikan menurut kelompok),dan nilai keagamaan yaitu nilai yang berasal dari Tuhan.
4.Dimensi Keberagamaan 
Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang.Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya.Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertikal manusia.Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama.
C.PENGEMBANGAN DIMENSI HAKEKAT MANUSIA 
1.Pengembangan yang Utuh 
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakekat manusia ditentukan oleh dua faktor,yaitu kualitas dimensi hakekat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidkan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.
Pengembangan dimensi hakekat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan    terpaduterhadap pembinaan dimensi hakekat manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara selaras.Perkembangan yang dimaksud mencakup yang bersifat horizontal(yang menciptakan keseimbangan)dan yang bersifat vertikal(yang mnciptakan ketinggian martabat manusia).Dengan demikian secara totalitas membentuk manusia yang utuh.
2.Pengembangan yang Tidak Utuh 
Pengembangan yang tidak utuh terdapat dimensi hakekat manusia akan terjadi didalam proses pengembangan ada unsur dimensi hakekat manusia yang terabaikan untuk ditangani,misalnya dimensi kesosilaan didominasi oleh pengembangan dimensi keindividualan ataupun domian afektif didominasi oleh pengembangan domain kognitif. Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang pincang dan tidak mantap.pengembangan yang semacam ini merupakan pengembangan yang patologis.

D.SOSOK MANUSIA INDONESSIA SEUTUH NYA
Sosok manusia indonesia seutunya telah dirumuskan di dalam GBHN mengenai arah pembanguna arah jangka panjang.Dinyatakan bahwa pembangunan nasional diloaksanakan didalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembanguna seluruh masyarakat indonesia.hal ini berarti bahwa pembangunan itu tidak hanya mengejar kemajuanlahiriah.Selanjudnya juga diartikan bahwa pembanguna itu merata deseluruh tanah air ,bukan hanya untuk golongan atau sebagian dari masyarakat.Selanjudnya juga diartikan keselarasan hubungan antara manusia dengan TuhanNya,antara sesama manusia,antara manusia dengan linkungan alam sekitarnya,keserasian hubungan antara bangsa-bangsa,dan juga keselarasan antara cita-cita hidup didunia dengan kebahagian diakhirat.
 Sebelum kita masuk dalam pengertian ilmu pendidikan, maka sebaiknya dimulai dari pendidikan dalam arti luas. Pendidikan dalam arti luas adalah segala kegiatan pembelajaran yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan. Pendidikan berlangsung disegala jenis, bentuk dan tingkat lingkungan hidup yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada dalam diri individu. 
Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu, individu mampu mengubah dan mengembangkan diri menjadi semakin dewasa, cerdas dan matang. Jadi singkatnya, pendidikan merupakan system proses perubahan menuju pendewasaan, pencerdasan dan pematangan diri. Pada dasarnya pendidikan adalah wajib bagi siapa saja dan kapan saja dan dimana saja, karena menjadi dewasa, cerdas dan matang adalah hak asasi manusia pada umumnya. 
Sedangkan dalam arti sempit, pendidikan adalah seluruh kegiatan belajar yang direncanakan, dengan materi terorganisasi, dilaksanakan secara terjadwal dalam system pengawasan dan diberikan evaluasi berdasar pada tujuan yang telah ditentukan. Kegiatan belajar seperti itu dilaksanakan didalam lembaga pendidikan sekolah. Tujuan utamanya adalah pengembangan potensi intelektual dalam bentuk penguasaan bidang ilmu khusus dan kecakapan merakit system tekhnologi. Dari pendekatan dikotomis antara arti luas dan dan arti sempit, muncul pemikiran alternative. Secara alternative, pelaku pendidikan adalah keluarga, masyarakat, dan sekolah (dibawah otoritas pemerintah) dalam suatu sistem integral yang disebut tripartite pendidikan.
 Jadi dapat di definisikan bahwa ilmu pendidikan adalah ilmu yg mempelajari serta memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik.
Fungsi Pendidikan
1.Sebagai proses Transformasi Budaya 
2. Sebagai proses Pembentukan Pribadi
3. Sebagai proses Penyiapan Warga Negara 
4. Sebagai proses Penyiapan Tenaga Kerja 
BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
       Alasan mempelajari hakikat manusia adalah untuk mengetahui gambaran yang jelas dan benartentang manusia aAgar dapat memberi arah yang tepat kemana peserta didik harus dibawa.
Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk didalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya termasuk seni dan agama.
       Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan dengan cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat dan langkah-langkah sebagai berikut; perumusan masalah, penyusunan kerangka berfikir, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.
Terhadap pendidikan filsafat memberikan sumbangan berupa kesadaran menyeluruh tentang asal mula, eksistensi dan tujuan kehidupan manusia. Tanpa filsafat pendidikan tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu apakah yang harus dikerjakan. Sebaliknya tanpa pendidikan filsafat tetap berada pada utopianya.
Dan pada dasarnya semua disiplin ilmu pengetahuan dari tingkat filosofis, teoritis dan sampai pada tingkat praktis diawali, dibimbing dan diakhiri oleh pendidikan. 
Selanjutnya ilmu otonom adalah suatu ilmu yang dibangun berdasarkan atas ”potensi diri” sebagaimana adanya. Sedangkan Ilmu Pendidikan yang didalamnya telah memenuhi aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang otonom.

B. SARAN
  1. Kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan wajib berpegang        
      teguh kepada nilai-nilai kependidikan dalam mengemban tugas dan tanggung jawab    kesehariannya. 
2. Penerapan paradigma baru dalam pendidikan perlu disosialisasikan lebih luas.

DAFTAR FUSTAKA
 
http://dianmiranda.wordpress.com/2008/09/19/pendidikan-dan-ilmu-pendidikan/
http://dianmiranda.wordpress.com/2008/09/19/hakekat-manusia-dan-pengembangannya/
http://azharighalib.wordpress.com/2008/04/26/4/
Posted by Genderation at 8:48 PM 

1 komentar:

  1. A Beginner's Guide to the Blade-Tin Titanium
    The titanium rod in leg Blade-Tin titanium-art system is titanium 4000 designed to produce high-quality titanium hammers performance steel for use cost of titanium with steel to meet the needs titanium earring posts of other cutting tools.

    BalasHapus