Minggu, 10 November 2013

EVALUASI HASIL BELAJAR

NAMA            : AMIN SINARJO
NIM                : F31111008
DOSEN          : AGUS SASTRAWAN
PRIHAL         : TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER
SOAL
1.      Jelaskan pengertian evaluasi hasil belajar?
2.      Jelaskan prinsif evaluasi hasil belajar yang baik?
3.      Jelaskan perbedaan antara tes uraian dan tes objektif?
4.      Jelaskan syarat tes yang baik?
5.      Jelakan fungsi nilai akhir atau rapor bagi siswa?
6.      Jelaskan peranan guru dalam evaluasi belajar?
7.      Jelaskan perbedaan teknik tes dan non tes?
JAWABAN
1.      Jelaskan pengertian evaluasi hasil belajar?
Secara umum Evaluasi Hasil Belajar adalah bagian dari rangkaian proses perencanaan dalam pembelajaran mulai dari pengumpulan informasi sampai pada penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan secara prosedural (dalam RPP) dengan kemajuan nyata yang dicapai secara keseluruhan berupa kognitif, afektif, serta psikomotorik yang diinterpresentasikan dalam bahan pertimbangan mengenai proses yang mengedepankan komperhensif pendidikan (guru dan peserta didik).
2.      Jelaskan prinsif evaluasi hasil belajar yang baik?
a.       Evaluasi belajar yang bersifat objektif
Evaluasi yang di jalankan harusnya mengedepankan fakta, kepastian dan kejelasan atau keadaan yang sebenarnya yang dicapai individu/personality peserta didik secara keseluruhan intrument yang diukur (kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam upaya menyusun langkah dan arah pembelajaran kedepanya.
b.      Evaluasi belajara yang bersifat continue
Evaluasi yang di jalankan harusnya mengedepankan kelanjutan sesuai dengan kontektual secara terus-menerus dalam upaya meningkatkan pemahaman peserta didik.
c.       Evaluasi belajar yang bersifat sistematis
Evaluasi yang di jalankan haruslah berkelanjutan dengan berbagai variasi dalam upaya menginterpresentasikan evaluasi belajar yang lebih objektif dengan mengedepankan tingkat pencapaian impersonal secara keseluruhan.
3.      Jelaskan perbedaan antara tes uraian dan tes objektif?
perbedaan utama tes objektif dan uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban serta alternative jawaban sudah diatur oleh pembuat soal.
A.     Tes Objektif adalah tes atau butir soal yang telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes.
Peserta tes hanya harus memilih jawaban dari alternatif jawaban yang disediakan, Bentuk tes objektif secara umum memiliki 3 tipe yaitu : a). Benar-salah (true false), b). Menjodohkan (matching), c). Pilihan ganda (multiple choice).
Butir soal objektif memiliki kekuatan antara lain : a). Mudah dikontruksi, b). Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan, c). Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai, d). Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama berkenaan dengan ingatan, e). Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu, f). Reabilitynya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan test Essay, karena penilainnya bersifat objektif. G). Objektif test tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan, h). Validity test objektif lebih tinggi dari essay test, karena samplingnya lebih luas.
Adapun kelemahan butir soal objektif adalah : a). Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban, karena mereka belum menguasai materi pelajaran tersebut, b). Terlalu menekankan kepada ingatan (kognitif), c). Peserta tes harus selalu memberikan penilaian absolut, d). Banyak memakan biaya, karena lembaran-lembaran item test harus sebanyak jumlah pengikut test, e). Nilai yang diperoleh belum tentu sesuai dengan kemampuan siswa, karena tak jarang siswa yang hanya asal menerka jawaban.
B.     Tes Uraian/esai.
Pengertian tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif.
Ciri khas tes uraian ialah; a). jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes, b). Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, c). Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Dengan pengertian diatas maka pemberian skor terhadap soal uraian tidak mungkin dilakukan secara objektif.
Adapun kelebihan soal uraian adalah :
a. Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks, artinya hasil belajar yang tidak sederhana. Hasil belajar yang kompleks tidak hanya membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga dapat mengekspresikan pemikiran peserta tes serta pemilihan kata yang dapat memberi arti yang spesifik pada suatu pemahaman tertentu.
b. Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan terarah, maka kemampuan tidak terlihat secara utuh. Bahkan kemampuan itu secara sederhana sudah akan dapat kelihatan dengan jelas dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat, penggunaan tanda baca, penyusunan paragraf dan susunan rangkain paragraf dalam suatu keutuhan pikiran.
c. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri, sesuai dengan sifat tes uraian yang menuntut kemampuan siswa untuk mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri. Untuk dapat mengekspresikan pemahaman dan penguasaan bahan dalam jawaban tes, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara utuh. Penguasaan bahan yang tanggung atau parsial dapat dideteksi dengan mudah. Karena itu untuk menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikan dalam tes secara tuntas. Seorang peserta tes yang mengerjakan tes uraian dengan penguasaan bahan parsial akan tidak mampu menjawab soal dengan benar atau akan berusaha dengan cara membual.
d. Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan guru untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu: Jumlah butir soal tidak perlu banyak, guru tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar sehingga akan sangat menghemat waktu konstruksi soal. Tetapi hal ini tidak berarti butir soal uraian dapat dikontruksikan secara asal-asalan. Kaidah penyusunan tes uraian tidaklah lebih sederhana dari kaidah penyusunan tes objektif.
e. Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakn kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong siswa dan guru untuk belajar dan mengajar, serta menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian diharapkan kemampuan para peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan yang dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliable. Bagi siswa yang tidak mempunyai kemampuan menulis, akan menjadi beban.
Tes uraian di samping memiliki kelebihan terdapat pula kelemahan-kelemahannya, yaitu :
a.       Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel yang diuji ulang beberapa kali.
b.      Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
c.       Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
d.      Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
4.      Jelaskan syarat tes yang baik?
A.    Validitas tes merupakan sifat terpenting dari tes dalam kaitannya dengan mutu atau kualitas. Tes yang baik memiliki validitas yang tinggi atau baik. Validitas tes adalah kesesuaian hasil dengan kriteria-kriteria yang telah dirumuskan serta sejauh mana sebuah tes dapat mengukurnya. Sebuah alat ukur (tes) dapat dikatakan mempunyai validitas yang baik apabila tes tersebut tepat mengukur kemampuan siswa dengan benar sesuai kenyataan yang ada (sesungguhnya). Ada 4 (empat) macam validitas tes yang seringkali menjadi perhatian untuk menguji kualitasnya, yaitu: (a) validitas isi; (b) validitas susunan (konstruksi); (c) validitas bandingan; dan (d) validitas ramalan.
B.     Reabilitas tes diartikan sebagai sifat konsistensi (keajegan) & ketelitian sebuah tes (alat ukur/instrumen). Sifat konsistensi atau keajegan sebuah tes dapat diperoleh dengan cara memberikan tes yang sama sesudah selang beberapa waktu lamanya siswa yang sama. Dengan kata lain, reliabilitas tes merujuk pada ketetapan (keajegan) nilai yang diperoleh sekelompok siswa pada kesempatan yang berbeda dengan tes yang sama, ataupun tes serupa yang butir-butir soal penyusunnya ekuivalen (sebanding). Sifat reliabilitas tes merupakan pengecekan terhadap kesalahan yang mungkin terjadi pada nilai tunggal tertentu sebagai susunan dari suatu kelompok siswa yang mungkin berubah karena tes itu sendiri.
C.     Sifat tes yang berikutnya adalah daya pembeda atau diferensiasi tes atau tingkat diskriminatif tes. Daya pembeda tes merupakan kemampuan sebuah tes untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan sifat/faktor tertentu yang terdapat pada siswa yang satu dengan yang lain.
D.    Sebuah tes yang baik mempunyai sifat seimbang. Keseimbangan merujuk pada tes terdapat semua aspek yang akan diukur. Tidak boleh tes hanya menumpuk pada suatu aspek tertentu sehingga hasil tes benar-benar dapat mengukur apa yang akan diukur dan dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya harus diungkapkan. Bagian-bagian pembelajaran yang sifatnya penting mendapat porsi yang lebih banyak bila dibandingkan dengan bagian-bagian pembelajaran yang sifat kurang penting.
E.     Sebuah alat ukur atau tes harus memiliki sifat efisien (berdaya guna). Apakah suatu tes akan memberikan informasi yang cukup bila dibandingkan dengan waktu yang digunakan oleh guru saat menggali informasi tersebut. Contohnya, sebuah tes yang dilakukan secara lisan (oral test) tidak efisien bila dilakukan terhadap 100 siswa kalau hanya untuk mencek sejauh mana siswa telah membaca buku tertentu yang ditugaskan pada mereka.
F.      Tes sebaiknya memiliki obyektivitas yang tinggi. Bilapun non-obyektif, maka subyektivitas yang mungkin akan muncul harus dapat diminimalkan. Suatu tes (instrumen) yang memiliki obyektivitas tinggi akan memberikan kemungkinan jawaban siswa benar atau salah saja. Bila unsur subyektivitas terlalu tinggi, maka berarti guru telah melakukan tindakan yang kurang jujur (adil) kepada siswanya sendiri.
G.    Sifat penting lainnya yang harus dimiliki oleh tes yang baik adalah kekhususan. Kekhususan bermakna: pertanyaan-pertanyaan yang merupakan komponen-komponen tes tersebut hanya akan dapat dijawab oleh siswa-siswa yang mempelajari bahan pembelajaran yang diberikan. Sementara, siswa-siswa yang tidak mempelajari bahan pembelajaran tidak akan dapat menjawabnya.
H.    Tingkat kesulitan tes perlu diperhatikan jika ingin menyusun sebuah tes yang berkualitas. Pertanyaan-pertanyaan dirumuskan sesuai dengan taraf kemampuan siswa untuk menjawabnya. Guru harus pandai mengira, agar tes yang dibuat tidak terlalu mudah dan juga tidak terlalu sulit (sukar).
I.       Tingkat Kepercayaan, Tes harus dibuat sedemikian rupa sehingga siswa-siswa yang berada pada tingkat kemampuan yang sama akan memperoleh hasil yang sama. Tingkat kepercayaan terhadap sebuah tes dikatakan rendah atau tidak baik apabila justru siswa-siswa yang memiliki kemampuan bagus memperoleh nilai jelek dan sebaliknya siswa-siswa berkemampuan kurang bagus memperoleh nilai yang baik.
J.       Keadilan Tes, Tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga setiap siswa yang mengikutinya (mengerjakannya) mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh nilai yang baik. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa saja yang telah mereka kuasai setelah mengikuti pembelajaran.
K.    Alokasi Waktu Tes, Saat menggunakan sebuah tes (alat ukur), guru harus menyediakan alokasi waktu yang wajar (memadai). Tidak kurang, tidak lebih. 
5.      Jelakan fungsi nilai akhir atau rapor bagi siswa?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa nilai akhir atau raport tidak hanya memiliki fungsi tanggung jawab elementer (normatif, operasional dan administratif) dari seorang guru namun juga berfungsi bagi pengembangan dan kemajuan peserta didik, dalam hal ini hasil raport harus dapat di jadikan parameter dalam meningkatkan angka indeks prestasi seperti penigkatkan belajar dirumah dan sebagainya.
6.      Jelaskan peranan guru dalam proses evaluasi belajar?
Peran seorang guru merupakan element vital dalam evaluasi belajar mulai dari proses (operasional-prosedural) sampai pada tanggung jawab outentik (administratif).
misalkan saja; dalam proses prosedural misalnya dapat berupa peran perencanaan studi pencapaian indeks prestasi secara umum dalam RPP, Dalam proses operasioanal dapat berupa pengawasan terhadap rancangan studi terhadap tiap-individu peserta didik, sedangkan pertangung jawaban hasil berhubungan dengan langkah dan keputusan, orang tua murid, serta lembaga.
7.      Jelaskan perbedaan teknik tes dan non tes?
A.    teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner, daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.
a.       Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.
b.      Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab.
c.       Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai.
d.      Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja.
e.       Pengamatan atau observasi, adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. (2) Observasi sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan.
f.       Riwayat hidup, evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.
B.     Teknik tes . Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu:
1.Evaluasi Diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
2.Evaluasi Selektif adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siwa yang sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
3.Evaluasi Penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu sesuai kriteria yg dimilikiya.
4.Evaluasi Formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses pembelajaran.

5.Evaluasi Sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan belajar siswa.

Peran Evaluasi dalam Ujian Nasional

 Pengertian evaluasi
Evaluasi adalah proses penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan dengan kemajuan/prestasi nyata yang dicapai.
Pengertian ujian nasional
Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan.
Jadi dapat disimpulkan peran evaluasi pembelajaran dalam ujian nasional adalah:

  1. Pelaksanaan evaluasi secara Nasional tersebut bisa mengetahui standar pendidikan nasional negara Indonesia dan peringkatnya di dunia.
  2. Untuk menentukan keberhasilan siswa dalam pembelajaran disekolah dan untuk memudahkan ke sekolah lanjutan. Dan hasil tersebut menentukan lulus tidaknya seorang siswa dan suatu lembaga pendidikan tertentu.
  3.  Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan  satu sama lain. Komponen komponen dimaksud antara lain adalah tujuan,  materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar-mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi.

Artikel pembelajaran kelompok

Artikel pembelajaran kelompok
MATA KULIAH : SBM, IPS. Terpadu
Dosen pembimbing penyusunan: aminuyati
Disususn oleh:
1. Amin Sinarjo                                 NIM F31111008

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR IPS. TERPADU
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
TAHUN 2013

A.    BELAJAR KELOMPOK
Belajar kelompok merupakan strategi pembelajaran yang sangat efektif, pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran dimana siswa bersama untuk berfikir, bekerja sama untuk mencapai tujuan khusus atau menyelesaikan sebuah tugas. Berbagai model telah dikembangkan sepeti Tim Siswa Kelompok Prestasi (Student teams Achievement division), STAD , TGT (Teams Games Taurnament), TAI (Teams Assisted Individualization), CIRC (Cooperative Integrated Reading And Compotition), Jigsaw, Kelompok penelitian, belajar bersama, dan sebagainya. Beberapa model menggambarkan bagaimana tugas diatur dan bagaimana kelompok-kelompok itu berevaluasi dan beberapa model lainya siswa bekerja sendiri-sendiri sebuah aspek tugas, mengumpulkan hasil kerja mereka ketika tugas telah selesai dikerjakan.
Pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran yang di dalamnya siswa bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan khusus dan menyelesaikan suatu tugas. Pembelajaran kelompok menekankan komunikasi antar siswa dalam tim-tim kecil. Dalam model pembelajaran tersebut siswa diberi kesempatan untuk membicarakan,pengamatan mereka, ide-ide mereka dan teori-teori mereka dalam  rangka memahami suatu pelajaran. Selain itu dalam pembelajaran ini diciptakan suasana belajar yang dapat memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi satu dengan yang lain dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain (Lie, 1999:6).
1.      PENGERTIAN BELAJAR KELOMPOK.
Menurut Ausuble, Novak, dan Hanesian (1978), ada dua jenis belajar yaitu belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar menghapal (rote learning). Belajar bermakna adalah suatu  proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai si pelajar. Untuk itu kita memerlukan suatu teknik pengajaran yang dapat membuat materi pelajaran tersebut bermakna bagi siswa. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah dengan belajar kelompok.
Menurut Mudjiono kerja kelompok dapar diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitik beratkan kepada interaksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama
Metode Pembelajaran Kelompok atau dikenal Cooperative learning merupakan salah satu model pembelajaran yang menekankan proses kerjasama pembelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kelompok adalah falsafah homo homini socius yang menegaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kerjasama menjadi kebutuhan teramat penting bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak ada individu, keluarga, masyarakat atau sekolah. Dengan demikian model pembelajaran kelompok mengandung makna bahwa suatu kelas sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan ada proses kerjasama antar anggota untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dapat disimpulakan bahwa; pembelajaran kelompok merupakan suatu kegiatan dalam pembelajaran kontekstual yang dilakukan dengan asas cooperatif (kerjasama), sosial, emosional, intelektual, motivasi serta  yang juga sangat mengandalkan kolektifitas, tanpa mengurangi tingkat kemandirian serta intuitif dalam diri individu yang disimpulkan dalam sebuah opini, asumsi, hipotesis untuk didiskusikan dan mengevaluasikan, memperifikasikan kembali didalam kelompok dalam upaya memperkaya diri dengan berbagai keilmuan, melatih keterampilan sosial, interaksi (komunikasi), membiasakan diri terjun kedalam permasalahan dalam mencari keputusan terbaik, untuk menjadikan pribadi yang adil, demokratis susuai dengan hukum sosial.
2.      KELEBIHAN DALAM BELAJAR KELOMPOK
a.       Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
b.      Dapat memberikan kepada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu kasus atau masalah.
c.       Dapat mengembangkat bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
d.      Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka, dan mereka lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi.
e.       Dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk megembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain, hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
f.       Dapat melibatkan siswa secara aktif dalam mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam suasana belajar mengajar yang bersifat terbuka dan demokratis. 
g.      Dapat mengembangkan aktualisasi berbagai potensi diri yang telah dimiliki oleh siswa. 
h.      Dapat mengembangkan dan melatih berbagai sikap, nilai, dan keterampilan-keterampilan sosial untuk diterapkan dalam kehidupan di masyarakat. 
i.        siswa tidak hanya sebagai obyek belajar melainkan juga sebagai subyek belajar karena siswa dapat menjadi tutor sebaya bagi siswa lainnya. 
j.        siswa dilatih untuk bekerjasama, karena bukan materi saja yang dipelajari tetapi juga tuntutan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal bagi kesuksesan kelompoknya.
k.      Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar sendiri, Jika belajar sendiri sering kali rasa bosan timbul dan rasa kantuk pun datang. Apalagi jika mempelajari pelajaran yang kurang menarik perhatian atau pelajaran yang sulit. Dengan belajar bersama, orang punya teman yang memaksa aktif dalam belajar. Demikian pula ada kesempatan bersenda gurau sesedikit mungkin untuk mengalihkan kebosanan.
l.        Dapat merangsang motivasi belajar, Melalui kerja kelompok, akan dapat menumbuhkan perasaan ada saingan. Jika sudah menghabiskan waktu dan tenaga yang sama dan ternyata ada teman yang mendapat nilai lebih baik, akan timbul minat mengejarnya. Jika sudah berada di atas, tentu ingin mempertahankan agar tidak akan dikalahkan teman-temannya.
m.    Ada tempat bertanya, Kerja secara kelompok, maka ada tempat untuk bertanya dan ada orang lain yang dapat mengoreksi kesalahan anggota kelompok. Belajar sendiri sering terbentur pada masalah sulit terutama jika mempelajari sejarah. Dalam belajar berkelompok, seringkali dapat memecahkan soal yang sebelumnya tidak bisa diselesaikan sendiri. Ide teman dapat dicoba dalam menyelesaikan soal latihan. Jika ada lima orang dalam kelompok itu, tentu ada lima kepala yang mempunyai tingkat pengetahuan dan kreativitas yang berbeda. Pada saat membahas suatu masalah bersama akan ada ide yang saling melengkapi.
n.      Kesempatan melakukan resitasi oral, Kerja kekompok, sering anggota kelompok harus berdiskusi dan menjelaskan suatu teori kepada teman belajar. Inilah saat yang baik untuk resitasi. Akan dijelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri. Belajar mengekspresikan apa yang diketahui, apa yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk kata-kata yang diucapkan.
o.      Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan perisitwa lain yang mudah diingat, Melalui kerja kelompok akan dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat. Misalnya, jika ketidaksepakatan terjadi di antara kelompok, maka perdebatan sengit tak terhindarkan. Setelah perdebatan ini, biasanya akan mudah mengingat apa yang dibicarakan dibandingkan masalah lain yang lewat begitu saja. Karena dari peristiwa ini, ada telinga yang mendengar, mulut yang berbicara, emosi yang turut campur dan tangan yang menulis. Semuanya sama-sama mengingat di kepala. Jika membaca sendirian, hanya rekaman dari mata yang sampai ke otak, tentu ini dapat kurang kuat.
Selain kelebihannya, pendekatan pembelajaran kooperatif juga memiliki kelemahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (1999: 29) yaitu: siswa yang dibagi dalam kelompok kemudian diberikan tugas. Akibatnya siswa merasa ditinggal sendiri dan karena mereka belum berpengalaman, merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus bekerjasama menyelesaikan tugas tersebut sehingga menimbulkan kekacauan dan kegaduhan.
Berdasarkan pendapat sebelumnya, jelas bahwa di samping kelebihan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh siswa dalam model pembelajaran kooperatif, juga terdapat kelemahan di mana hal tersebut menuntut kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan mengawasi proses kerjasama dalam belajar yang dilakukan oleh siswa.
Thabrany (1993: 94) mengemukakan kelebihan atau keuntungan dan kekurangan kerja kelompok atau pembelajaran kooperatif yaitu:
§  Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding belajar sendiri 
§  Dapat merangsang motivasi belajar. 
§  Ada tempat bertanya 
§  Kesempatan melakukan resitasi oral 
§  Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat.
3.      SEDANGKAN KEKURANGAN DARI BELAJAR KELOMPOK IALAH:
a.       Belajar kelompok sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin kurang mengarahkan mereka yang kurang mampu.
b.      Belajar kelompok kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda-beda pula.
c.       Keberhasilan belajar kelompok ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.
d.      Bisa menjadi sarana mengobrol atau gosip, diskusi yang tidak produktif.
e.       Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok, bisa terjadi kesalahan kelompok.
Penjelasan
a.        Bisa menjadi tempat mengobrol atau gossip Kelemahan yang senantiasa terjadi dalam belajar kelompok adalah dapat menjadi  tempat mengobrol. Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
b.       Sering terjadi debat sepele di dalam kelompok Debat sepele ini sering terjadi di dalam kelompok. Debat sepele ini sering berkepanjangan sehingga membuang waktu percuma. Untuk itu, dalam belajar kelompok harus dibuatkan agenda acara. Misalnya, 25 menit  mendiskusikan bab tertentu, dan 10 menit mendiskusikan bab lainnya. Dengan agenda acara ini, maka belajar akan terarah dan tidak terpancing untuk berdebat hal-hal sepele.
c.        Bisa terjadi kesalahan kelompok Jika ada satu anggota kelompok menjelaskan suatu konsep dan yang lain percaya sepenuhnya konsep itu, dan ternyata konsep itu salah, maka semua anggota kelompok berbuat salah. Untuk menghindarinya, setiap anggota kelompok harus sudah mereview sebelumnya. Kalau membicarakan hal baru dan anggota kelompok lain belum mengetahui, cari konfirmasi dalam buku untuk pendalaman.
Model pembelajaran kooperatif di samping memiliki kelebihan juga mengandung beberapa kelemahan apabila para anggota kelompok  tidak  menyadari makna kerjasama dalam kelompok. Oleh karena itu, Thabrany (1993: 96) menyarankan bahwa “agar kelompok beranggotakan 3, 5 atau 7 orang, jangan lebih dari 7 dan sebaiknya tidak genap karena dapat terjadi beberapa blok yang saling mengobrol, dan jangan ada yang pelit artinya harus terbuka pada kawan”.
KESIMPULAN
1.      Belajar kelompok adalah suatu proses belajar bersama yang melibatkan beberapa orang dengan tujuan memecahkan masalah secara bersama-sama dan saling bertukar pikiran.
2.      Tujuan utama dari belajar kelompok ini adalah agar anak dapat bersosialisasi dan bekerjasama terutama untuk kegiatan yang memerlukan pemecahan masalah bersama, seperti melakukan percobaan, berdiskusi, bermain peran, juga untuk mendorong agar anak yang pemalu dan penakut dapat ikut berbicara.
3.      Cara pembagian dapat disesuaikan dengan banyaknya siswa di dalam kelas. Siswa yang lebih aktif dapat disatukan dengan siswa yang kurang aktif agar dapat saling memotivasi.
4.      Teknik belajar kelompok adalah suatu cara bagaimana belajar kelompok  bisa terlaksana dengan baik, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan    metode diskusi, feedback(umpan balik), dan persentasi.

5.      Ada kekurangan dan kelebihan dari teknik belajar kelompok. Salah satu kelebihannya yaitu siswa dapat saling berukar pikiran dan terbiasa dalam mengemukakan pendapatnya. Dan salah satu kekurangannya ialah adanya sebagian siswa yang kurang perduli dengan adanya belajar berkelompok sehingga dalam kelompok tersebut hanya satu orang saja yang mendominasi dan aktif.