NAMA :
AMIN SINARJO
NIM :
F31111008
DOSEN :
AGUS SASTRAWAN
PRIHAL :
TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER
SOAL
1.
Jelaskan
pengertian evaluasi hasil belajar?
2.
Jelaskan
prinsif evaluasi hasil belajar yang baik?
3.
Jelaskan
perbedaan antara tes uraian dan tes objektif?
4.
Jelaskan
syarat tes yang baik?
5.
Jelakan
fungsi nilai akhir atau rapor bagi siswa?
6.
Jelaskan
peranan guru dalam evaluasi belajar?
7.
Jelaskan
perbedaan teknik tes dan non tes?
JAWABAN
1.
Jelaskan
pengertian evaluasi hasil belajar?
Secara umum Evaluasi Hasil Belajar adalah bagian dari rangkaian
proses perencanaan dalam pembelajaran mulai dari pengumpulan informasi sampai
pada penilaian dengan jalan membandingkan antara tujuan yang diharapkan secara
prosedural (dalam RPP) dengan kemajuan nyata yang dicapai secara keseluruhan
berupa kognitif, afektif, serta psikomotorik yang diinterpresentasikan dalam
bahan pertimbangan mengenai proses yang mengedepankan komperhensif pendidikan
(guru dan peserta didik).
2.
Jelaskan
prinsif evaluasi hasil belajar yang baik?
a.
Evaluasi
belajar yang bersifat objektif
Evaluasi yang di jalankan harusnya mengedepankan fakta, kepastian dan kejelasan atau keadaan yang sebenarnya yang dicapai
individu/personality peserta didik secara keseluruhan intrument yang diukur
(kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam upaya menyusun langkah dan arah
pembelajaran kedepanya.
b.
Evaluasi
belajara yang bersifat continue
Evaluasi yang di jalankan harusnya mengedepankan kelanjutan sesuai
dengan kontektual secara terus-menerus
dalam upaya meningkatkan pemahaman peserta didik.
c.
Evaluasi
belajar yang bersifat sistematis
Evaluasi yang di jalankan haruslah berkelanjutan dengan berbagai variasi
dalam upaya menginterpresentasikan evaluasi belajar yang lebih objektif dengan
mengedepankan tingkat pencapaian impersonal secara keseluruhan.
3.
Jelaskan
perbedaan antara tes uraian dan tes objektif?
“ perbedaan utama tes objektif dan
uraian adalah siapa yang menyediakan jawaban serta alternative jawaban sudah diatur oleh pembuat soal”.
A. Tes
Objektif adalah tes atau butir soal yang telah mengandung kemungkinan jawaban yang
harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes.
Peserta tes hanya harus memilih
jawaban dari alternatif jawaban yang disediakan, Bentuk tes
objektif secara umum memiliki 3 tipe yaitu : a). Benar-salah (true false), b). Menjodohkan (matching), c). Pilihan ganda
(multiple choice).
Butir soal objektif memiliki
kekuatan antara lain : a). Mudah dikontruksi, b). Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan, c). Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih
cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi
nilai, d). Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar
langsung terutama berkenaan dengan ingatan,
e). Untuk
menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu,
f). Reabilitynya
lebih tinggi kalau di bandingkan dengan test Essay, karena penilainnya bersifat
objektif. G). Objektif test tidak memperdulikan
penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan, h). Validity test objektif lebih tinggi dari essay test,
karena samplingnya lebih luas.
Adapun kelemahan butir soal objektif adalah : a). Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban, karena
mereka belum menguasai materi pelajaran tersebut,
b). Terlalu
menekankan kepada ingatan (kognitif), c). Peserta tes harus selalu
memberikan penilaian absolut, d). Banyak memakan biaya, karena
lembaran-lembaran item test harus sebanyak jumlah pengikut test, e). Nilai yang diperoleh belum tentu sesuai dengan
kemampuan siswa, karena tak jarang siswa yang hanya asal menerka jawaban.
B. Tes
Uraian/esai.
Pengertian tes uraian adalah
butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau
pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran
peserta tes secara naratif.
Ciri khas tes uraian ialah; a). jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh
orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes, b). Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang
diajukan, c). Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan
atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Dengan pengertian diatas maka
pemberian skor terhadap soal uraian tidak mungkin dilakukan secara objektif.
Adapun kelebihan soal uraian adalah :
a. Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar
yang kompleks, artinya hasil belajar yang tidak sederhana. Hasil belajar yang
kompleks tidak hanya membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga dapat
mengekspresikan pemikiran peserta tes serta pemilihan kata yang dapat memberi
arti yang spesifik pada suatu pemahaman tertentu.
b. Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada
pengukuran kemampuan dan kemampuan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan
sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan
keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan
kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran
secara teratur dan terarah, maka kemampuan tidak terlihat secara utuh. Bahkan kemampuan itu secara sederhana sudah akan dapat
kelihatan dengan jelas dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat, penggunaan
tanda baca, penyusunan paragraf dan susunan rangkain paragraf dalam suatu
keutuhan pikiran.
c. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi
peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri, sesuai dengan
sifat tes uraian yang menuntut kemampuan siswa untuk mengekspresikan jawaban
dalam kata-kata sendiri. Untuk dapat mengekspresikan pemahaman dan penguasaan
bahan dalam jawaban tes, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan
secara utuh. Penguasaan bahan yang tanggung
atau parsial dapat dideteksi dengan mudah. Karena itu untuk menjawab tes uraian
dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan
diujikan dalam tes secara tuntas. Seorang peserta tes yang mengerjakan tes
uraian dengan penguasaan bahan parsial akan tidak mampu menjawab soal dengan
benar atau akan berusaha dengan cara membual.
d. Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan guru untuk
menyusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu: Jumlah butir soal tidak perlu
banyak, guru tidak selalu harus memasok jawaban atau
kemungkinan jawaban yang benar sehingga akan sangat menghemat waktu konstruksi
soal. Tetapi hal ini tidak berarti butir soal uraian dapat dikontruksikan secara
asal-asalan. Kaidah penyusunan tes uraian tidaklah lebih sederhana dari kaidah
penyusunan tes objektif.
e. Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal
ini merupakn kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes
uraian akan sangat mendorong siswa dan guru untuk belajar dan mengajar, serta
menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian diharapkan kemampuan para
peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi
dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes
uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk
tulisan yang dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak
reliable. Bagi siswa yang tidak mempunyai kemampuan menulis, akan menjadi
beban.
Tes uraian di samping memiliki kelebihan terdapat pula
kelemahan-kelemahannya, yaitu :
a. Reliabilitasnya rendah artinya
skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes
yang parallel yang diuji ulang beberapa kali.
b. Untuk menyelesaikan tes uraian
guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
c. Jawaban peserta tes kadang-kadang
disertai bualan-bualan.
d. Kemampuan menyatakan pikiran
secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.
4.
Jelaskan
syarat tes yang baik?
A. Validitas
tes merupakan sifat terpenting dari tes
dalam kaitannya dengan mutu atau kualitas. Tes yang baik memiliki validitas
yang tinggi atau baik. Validitas tes adalah kesesuaian hasil dengan
kriteria-kriteria yang telah dirumuskan serta sejauh mana sebuah tes dapat mengukurnya.
Sebuah alat ukur (tes) dapat dikatakan mempunyai validitas yang baik apabila
tes tersebut tepat mengukur kemampuan siswa dengan benar sesuai kenyataan yang
ada (sesungguhnya). Ada 4 (empat) macam validitas tes yang seringkali menjadi
perhatian untuk menguji kualitasnya, yaitu: (a) validitas isi; (b) validitas
susunan (konstruksi); (c) validitas bandingan; dan (d) validitas ramalan.
B. Reabilitas
tes diartikan sebagai sifat konsistensi
(keajegan) & ketelitian sebuah tes (alat ukur/instrumen). Sifat konsistensi
atau keajegan sebuah tes dapat diperoleh dengan cara memberikan tes yang sama
sesudah selang beberapa waktu lamanya siswa yang sama. Dengan kata lain,
reliabilitas tes merujuk pada ketetapan (keajegan) nilai yang diperoleh
sekelompok siswa pada kesempatan yang berbeda dengan tes yang sama, ataupun tes
serupa yang butir-butir soal penyusunnya ekuivalen (sebanding). Sifat
reliabilitas tes merupakan pengecekan terhadap kesalahan yang mungkin terjadi
pada nilai tunggal tertentu sebagai susunan dari suatu kelompok siswa yang
mungkin berubah karena tes itu sendiri.
C. Sifat tes yang berikutnya adalah daya
pembeda atau diferensiasi tes atau
tingkat diskriminatif tes. Daya pembeda tes merupakan kemampuan sebuah tes
untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan sifat/faktor tertentu yang terdapat pada
siswa yang satu dengan yang lain.
D. Sebuah tes yang baik mempunyai sifat seimbang. Keseimbangan merujuk
pada tes terdapat semua aspek yang akan diukur. Tidak boleh tes hanya menumpuk
pada suatu aspek tertentu sehingga hasil tes benar-benar dapat mengukur apa
yang akan diukur dan dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya harus diungkapkan.
Bagian-bagian pembelajaran yang sifatnya penting mendapat porsi yang lebih
banyak bila dibandingkan dengan bagian-bagian pembelajaran yang sifat kurang
penting.
E. Sebuah alat ukur atau tes harus
memiliki sifat efisien (berdaya
guna). Apakah suatu tes akan memberikan informasi yang cukup bila dibandingkan
dengan waktu yang digunakan oleh guru saat menggali informasi tersebut.
Contohnya, sebuah tes yang dilakukan secara lisan (oral test) tidak efisien
bila dilakukan terhadap 100 siswa kalau hanya untuk mencek sejauh mana siswa
telah membaca buku tertentu yang ditugaskan pada mereka.
F. Tes sebaiknya memiliki obyektivitas yang tinggi. Bilapun
non-obyektif, maka subyektivitas yang mungkin akan muncul harus dapat
diminimalkan. Suatu tes (instrumen) yang memiliki obyektivitas tinggi akan
memberikan kemungkinan jawaban siswa benar atau salah saja. Bila unsur
subyektivitas terlalu tinggi, maka berarti guru telah melakukan tindakan yang
kurang jujur (adil) kepada siswanya sendiri.
G. Sifat penting lainnya yang harus
dimiliki oleh tes yang baik adalah kekhususan.
Kekhususan bermakna: pertanyaan-pertanyaan yang merupakan komponen-komponen tes
tersebut hanya akan dapat dijawab oleh siswa-siswa yang mempelajari bahan
pembelajaran yang diberikan. Sementara, siswa-siswa yang tidak mempelajari
bahan pembelajaran tidak akan dapat menjawabnya.
H. Tingkat
kesulitan tes perlu
diperhatikan jika ingin menyusun sebuah tes yang berkualitas.
Pertanyaan-pertanyaan dirumuskan sesuai dengan taraf kemampuan siswa untuk
menjawabnya. Guru harus pandai mengira, agar tes yang dibuat tidak terlalu
mudah dan juga tidak terlalu sulit (sukar).
I. Tingkat Kepercayaan,
Tes harus dibuat sedemikian rupa sehingga siswa-siswa yang berada pada tingkat
kemampuan yang sama akan memperoleh hasil yang sama. Tingkat kepercayaan
terhadap sebuah tes dikatakan rendah atau tidak baik apabila justru siswa-siswa
yang memiliki kemampuan bagus memperoleh nilai jelek dan sebaliknya siswa-siswa
berkemampuan kurang bagus memperoleh nilai yang baik.
J. Keadilan Tes, Tes harus dirancang sedemikian rupa
sehingga setiap siswa yang mengikutinya (mengerjakannya) mempunyai kesempatan
yang sama untuk memperoleh nilai yang baik. Semua siswa harus mempunyai
kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap apa saja yang
telah mereka kuasai setelah mengikuti pembelajaran.
K. Alokasi Waktu Tes, Saat
menggunakan sebuah tes (alat ukur), guru harus menyediakan alokasi waktu yang
wajar (memadai). Tidak kurang, tidak lebih.
5.
Jelakan
fungsi nilai akhir atau rapor bagi siswa?
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa nilai
akhir atau raport tidak hanya memiliki fungsi tanggung jawab elementer (normatif,
operasional dan administratif) dari seorang guru namun juga berfungsi bagi
pengembangan dan kemajuan peserta didik, dalam hal ini hasil raport harus dapat
di jadikan parameter dalam meningkatkan angka indeks prestasi seperti penigkatkan
belajar dirumah dan sebagainya.
6.
Jelaskan
peranan guru dalam proses evaluasi belajar?
Peran seorang guru merupakan element vital
dalam evaluasi belajar mulai dari proses (operasional-prosedural) sampai pada
tanggung jawab outentik (administratif).
misalkan saja; dalam proses prosedural misalnya dapat berupa peran perencanaan studi pencapaian indeks prestasi secara umum dalam RPP, Dalam proses operasioanal dapat berupa pengawasan terhadap rancangan studi terhadap tiap-individu peserta didik, sedangkan pertangung jawaban hasil berhubungan dengan langkah dan keputusan, orang tua murid, serta lembaga.
misalkan saja; dalam proses prosedural misalnya dapat berupa peran perencanaan studi pencapaian indeks prestasi secara umum dalam RPP, Dalam proses operasioanal dapat berupa pengawasan terhadap rancangan studi terhadap tiap-individu peserta didik, sedangkan pertangung jawaban hasil berhubungan dengan langkah dan keputusan, orang tua murid, serta lembaga.
7.
Jelaskan
perbedaan teknik tes dan non tes?
A. teknik non tes meliputi ; skala bertingkat,
kuesioner, daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.
a. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu
nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak
terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat
dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.
b. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam
beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi
kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah
kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya Sedangkan kuesiioner
tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan
mengetahui si penjawab.
c. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan
pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk
memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai.
d. Wawancara, suatu cara yang dilakukan secara lisan yang
berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak
digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori, yaitu pertama, wawancara bebas yaitu
si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas
sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua
adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan
pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada
informsi-informasi yang diperlukan saja.
e. Pengamatan atau observasi, adalah suatu teknik yang
dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan
terlihat sebenarnya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1)
observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang
diamati. (2) Observasi sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang
diamati. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi
sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek
pengamatan.
f. Riwayat hidup, evaluasi ini dilakukan dengan
mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup
objek evaluasi tersebut.
B.
Teknik tes .
Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu:
1.Evaluasi Diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
1.Evaluasi Diagnostik adalah evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
2.Evaluasi Selektif adalah evaluasi yang digunakan
untuk memilih siwa yang sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
3.Evaluasi Penempatan adalah evaluasi yang digunakan
untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu sesuai kriteria
yg dimilikiya.
4.Evaluasi Formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan
untuk memperbaiki dan meningkatan proses pembelajaran.
5.Evaluasi
Sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan
belajar siswa.