Sabtu, 09 November 2013

EMOSI REMAJA, HASIL BELAJAR DAN PENGEMBANGAN POTENSI


1.      Emosi Remaja
Zaman remaja yang dikenali sebagai zaman ‘storm and stress’ amat sukar dipahami oleh orang dewasa. Ketidak pahaman inilah sering menimbulkan konflik antara golongan remaja dengan orang dewasa khususnya ibu-bapak dan guru-guru. Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif yang kompleks.
Perlu diketahui emosi yang unsur fisikis yang mendorong individu untuk melakukan tindak balas (ekprektif) terhadap keadaan dan pristiwa di sekitarnya ini  berkaitan erat dengan tigkah laku, perbuatan. Tindakan ini menimbulkan 2 (dua) kemungkinan, yaitu; (1). Emosi yang di ekpresikan atau mengarah pada hal-hal yang positif, dan (2). Emosi yang di ekpresikan atau mengarah pada hal-hal yang negative. Nah, disinanilah letak peran lembaga terkait, seperti lembaga keluarga, pendidikan dan agama, dalam mengarahkan atau membimbing agar perkembangan emosi remaja itu tetap pada rute yang tepat dan pantas, emosi yang fluktuatif para remaja seringkali membuat para orang tua kebingungan dan bahkan tidak jarang para orang tua memilih jalan represif bukan preventif dalam mengendalikan emosi remaja dewasa ini. Padahal tidaklah demikian, emosi remaja yang masih dalam tahap perkembangan yang memiliki rasa ingin tau yang sangat besar, jika menggunakan ketegasan mereka akan mengeras, inilah prinsif yang perlu diperhatikan: bagaimana kita membuat emosi mereka tetap melunak dengan kita (orang tua atau pendidik). Disini sangat dibutuhkan kemampuan menjaga kestabilan emosi mereka dengan soft skill yang dimiliki, yang apabila kita membahas soft skill berarti kita membahas pendekatan dan pendidikan formal.
Peran lembaga pendidikan tidak bisa diabaikan, lembaga pendidikan amat penting dalam mengisi kekosongan jiwa, rasa ingin tau, dengan materi-materi pembelajaran yang disiapka dalam kurikulum. Bahka tidak jarang peserta didik yang dalam proses remaja (perkembangan emosi) yang memanfaatkanya dengan baik dan benar-benar memanfaatkan dan menikmati proses ini dengan ilmu pengetahuan sangat prestisius, dan itu bisa di lihat dari hasil evaluasi dari proses belajar, disekolah mereka bisa berprestasi. Namun tidak jarang untuk memperoleh hasilkan evaluasi yang maksimal mereka seringkali menghalalkan segala cara, seperti mencontek, secara tidak langsung ini mendorong mereka untuk menjadi orang yang naif, pembohong, penipu, dan tidak menjadi diri meka sendiri. Padahal apalah mereka tidak memiliki ilmu karena mereka menjiplak dan mencontek. Ini seakan menjadi salah satu efek buruk metode pembelajaran evalutif dengan kuantitatif, karena yang mereka kejar adalah prestasi dan nilai semu yang penuh kebohongan bukan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kelangsungan proses hidup mereka. sebenarnya ilmu pengetahuanlah jawaban dari banyak pertanyaan dalam hidup ini dan bukan prestasi.
Perkembangan emosi remaja pada peringkat awal terutama pada zaman kanak-kanak banyak dipengaruhi melalui pelaziman dan cara peniruan baik berbentuk imitasi, identifikasi, maupun sugesti. Cara pelaziman berlaku dengan mudah dan cepat pada masa beberapa tahun permulaan hidup mereka. Kanak-kanak menggunakan daya imaginasi dalam membayangkan sesuatu mengikut yang telah dilazimkan.
Antara ciri emosi remaja ialah romantik, mudah keliru dan mudah marah atau memberontak keadaan emosi yang fluktuatif.  Remaja yang mempunyai ciri-ciri romantik adalah remaja yang mengalami tarikan heteroseksual (tarikan antara remaja yang berlainan kelamin) melalui pendampingan mereka dengan remaja lain. Ketika zaman remaja, perubahan fisikal, emosi dan personality berlaku dengan pesat dan mereka harus memahaminya dengan teliti. Ketika ini juga berlaku perubahan dalam hubungan mereka dengan keluarga, rekan sebaya dan masyarakat sekeliling. Harapan yang baik dan tanggungjawab mula dikenakan kepada mereka. Dalam keadaan begini kadang-kadang mereka mudah keliru dengan peranan dan tanggungjawab mereka. Itulah sebabnya golongan remaja mudah bertukar pendirian, pendapat, ideologi dan kawan-kawan.
Selain itu, remaja juga mempunyai emosi yang mudah marah. Zaman remaja yang dikatakan sebagai ‘storm and stress’ mudah menyebabkan remaja memberontak dan marah terhadap seseorang atau sesuatu perkara. Seseorang remaja mempunyai kehendak yang harus diterima keluarga, rekannya dan masyarakat sekeliling. Remaja mudah menunjukkan emosi memberontak dan marahnya dengan tindakan agresif seperti mendurhaka kepada keluarga, lari dari rumah dan ingkar dengan peraturan sekolah. Mereka mendurhaka kepada keluarga sebagai percobaan untuk bebas daripada sifat kekanak-kanakan dan untuk mencapai kemerdekaan jiwa. Jiwa ingin lari dari rumah pula, apabila mereka rasa tidak selera dengan undang-undang dan mencoba untuk hidup bebas.
Tindakan ingkar dari peraturan sekolah pula, karena remaja menganggap pembelajaran di sekolah mengganggu jiwa remajanya karena di sekolah terdapat banyak peraturan dan ruang kritikan seperti guru, kerja sekolah dan disiplin. Pendidik perlu memahami bahwa remaja yang dalam proses perkembangan dan perubahan boleh menimbulkan pelbagai masalah emosi karena mereka sedang berhadapan dengan proses penyesuaian diri antara zaman kanak-kanak dengan alam dewasa.
Bagi remaja yang bersedia dengan kehadiran masalah dan sanggup menerimanya dengan hati terbuka, mereka berjaya menerima perubahan itu sekali pun kadang kala pahit baginya. Remaja amat memerlukan sokongan dan pemahaman daripada orang dewasa ketika mereka mengharungi zaman yang penuh dengan cabaran ini. Ketika ini, perubahan dari aspek emosi agak pesat. Sekiranya mereka tidak mendapat sokongan daripada orang dewasa, mereka mudah mengalami gangguan emosi dan menimbulkan masalah emosi yang boleh memberi kesan tidak baik kepada perkembangan psikologi remaja.

3.      Pengembangan Potensi remaja
Pengembangan potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja dan sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan peserta didik agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Untuk dapat mengembangkan, sebelum ataupun bersamaan dengan usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para pendidik terhadap remaja. Kecakapan dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill). Kegiatan pendidikan pada tahap melatih lebih mengarah pada konsep pengembangan kemampuan motorik peserta didik. Terkait dengan proses melatih ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian anak dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam proses pembelajaran. Peserta didik dilatih memahami, merumuskan, memilih cara pemecahan dan memahami proses pemecahan “masalah”. Berangkat dari kondisi tersebut, maka budaya instant dalam pembelajaran yang selama ini dibudayakan harus ditinggalkan, menuju proses pemberdayaan seluruh unsur dalam sistem pembelajaran.
Untuk membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi pengembangan pendidikan, antara lain:
1.      Mengedepankan model perencanaan pendidikan (partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat.
2.      Pemerintah hendaknya berperan sebagai katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.
3.      Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar dan tuntutan teman saing (kompetif).
4.      Pemanfaatan sumber luar (out sourcing), memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.
5.      Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah, bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.

6.      Menciptakan soft image pada masyarakat sebagai masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar