1. Emosi Remaja
Zaman
remaja yang dikenali sebagai zaman ‘storm
and stress’ amat sukar
dipahami oleh orang dewasa. Ketidak pahaman inilah sering menimbulkan konflik
antara golongan remaja dengan orang dewasa khususnya ibu-bapak dan guru-guru.
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap
progresif yang kompleks.
Perlu
diketahui emosi yang unsur fisikis yang mendorong individu untuk melakukan
tindak balas (ekprektif) terhadap keadaan dan pristiwa di sekitarnya ini berkaitan erat dengan tigkah laku, perbuatan. Tindakan
ini menimbulkan 2 (dua) kemungkinan, yaitu; (1). Emosi yang di ekpresikan atau
mengarah pada hal-hal yang positif, dan (2). Emosi yang di ekpresikan atau
mengarah pada hal-hal yang negative. Nah, disinanilah letak peran lembaga
terkait, seperti lembaga keluarga, pendidikan dan agama, dalam mengarahkan atau
membimbing agar perkembangan emosi remaja itu tetap pada rute yang tepat dan
pantas, emosi yang fluktuatif para remaja seringkali membuat para orang tua
kebingungan dan bahkan tidak jarang para orang tua memilih jalan represif bukan
preventif dalam mengendalikan emosi remaja dewasa ini. Padahal tidaklah
demikian, emosi remaja yang masih dalam tahap perkembangan yang memiliki rasa
ingin tau yang sangat besar, jika menggunakan ketegasan mereka akan mengeras,
inilah prinsif yang perlu diperhatikan: bagaimana kita membuat emosi mereka
tetap melunak dengan kita (orang tua atau pendidik). Disini sangat dibutuhkan
kemampuan menjaga kestabilan emosi mereka dengan soft skill yang dimiliki, yang
apabila kita membahas soft skill berarti kita membahas pendekatan dan
pendidikan formal.
Peran
lembaga pendidikan tidak bisa diabaikan, lembaga pendidikan amat penting dalam
mengisi kekosongan jiwa, rasa ingin tau, dengan materi-materi pembelajaran yang
disiapka dalam kurikulum. Bahka tidak jarang peserta didik yang dalam proses
remaja (perkembangan emosi) yang memanfaatkanya dengan baik dan benar-benar
memanfaatkan dan menikmati proses ini dengan ilmu pengetahuan sangat
prestisius, dan itu bisa di lihat dari hasil evaluasi dari proses belajar, disekolah
mereka bisa berprestasi. Namun tidak jarang untuk memperoleh hasilkan evaluasi
yang maksimal mereka seringkali menghalalkan segala cara, seperti mencontek,
secara tidak langsung ini mendorong mereka untuk menjadi orang yang naif,
pembohong, penipu, dan tidak menjadi diri meka sendiri. Padahal apalah mereka
tidak memiliki ilmu karena mereka menjiplak dan mencontek. Ini seakan menjadi
salah satu efek buruk metode pembelajaran evalutif dengan kuantitatif, karena
yang mereka kejar adalah prestasi dan nilai semu yang penuh kebohongan bukan
ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kelangsungan proses hidup mereka.
sebenarnya ilmu pengetahuanlah jawaban dari banyak pertanyaan dalam hidup ini
dan bukan prestasi.
Perkembangan
emosi remaja pada peringkat awal terutama pada zaman kanak-kanak banyak
dipengaruhi melalui pelaziman dan cara peniruan baik berbentuk imitasi, identifikasi,
maupun sugesti. Cara pelaziman berlaku dengan mudah dan cepat pada masa
beberapa tahun permulaan hidup mereka. Kanak-kanak menggunakan daya imaginasi
dalam membayangkan sesuatu mengikut yang telah dilazimkan.
Antara
ciri emosi remaja ialah romantik, mudah keliru dan mudah marah atau memberontak
keadaan emosi yang fluktuatif. Remaja
yang mempunyai ciri-ciri romantik adalah remaja yang mengalami tarikan
heteroseksual (tarikan antara remaja yang berlainan kelamin) melalui
pendampingan mereka dengan remaja lain. Ketika zaman remaja, perubahan fisikal,
emosi dan personality berlaku dengan pesat dan mereka harus memahaminya dengan
teliti. Ketika ini juga berlaku perubahan dalam hubungan mereka dengan
keluarga, rekan sebaya dan masyarakat sekeliling. Harapan yang baik dan
tanggungjawab mula dikenakan kepada mereka. Dalam keadaan begini kadang-kadang
mereka mudah keliru dengan peranan dan tanggungjawab mereka. Itulah sebabnya
golongan remaja mudah bertukar pendirian, pendapat, ideologi dan kawan-kawan.
Selain
itu, remaja juga mempunyai emosi yang mudah marah. Zaman remaja yang dikatakan
sebagai ‘storm and stress’ mudah menyebabkan remaja memberontak
dan marah terhadap seseorang atau sesuatu perkara. Seseorang remaja mempunyai
kehendak yang harus diterima keluarga, rekannya dan masyarakat sekeliling.
Remaja mudah menunjukkan emosi memberontak dan marahnya dengan tindakan agresif
seperti mendurhaka kepada keluarga, lari dari rumah dan ingkar dengan peraturan
sekolah. Mereka mendurhaka kepada keluarga sebagai percobaan untuk bebas
daripada sifat kekanak-kanakan dan untuk mencapai kemerdekaan jiwa. Jiwa ingin
lari dari rumah pula, apabila mereka rasa tidak selera dengan undang-undang dan
mencoba untuk hidup bebas.
Tindakan
ingkar dari peraturan sekolah pula, karena remaja menganggap pembelajaran di
sekolah mengganggu jiwa remajanya karena di sekolah terdapat banyak peraturan
dan ruang kritikan seperti guru, kerja sekolah dan disiplin. Pendidik perlu
memahami bahwa remaja yang dalam proses perkembangan dan perubahan boleh
menimbulkan pelbagai masalah emosi karena mereka sedang berhadapan dengan
proses penyesuaian diri antara zaman kanak-kanak dengan alam dewasa.
Bagi
remaja yang bersedia dengan kehadiran masalah dan sanggup menerimanya dengan
hati terbuka, mereka berjaya menerima perubahan itu sekali pun kadang kala
pahit baginya. Remaja amat memerlukan sokongan dan pemahaman daripada orang
dewasa ketika mereka mengharungi zaman yang penuh dengan cabaran ini. Ketika
ini, perubahan dari aspek emosi agak pesat. Sekiranya mereka tidak mendapat
sokongan daripada orang dewasa, mereka mudah mengalami gangguan emosi dan
menimbulkan masalah emosi yang boleh memberi kesan tidak baik kepada
perkembangan psikologi remaja.
3. Pengembangan Potensi remaja
Pengembangan
potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja dan sistematis dalam
membiasakan/mengkondisikan peserta didik agar memiliki kecakapan dan
keterampilan hidup. Untuk dapat mengembangkan, sebelum ataupun bersamaan dengan
usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para
pendidik terhadap remaja. Kecakapan
dan keterampilan yang dimaksud berarti luas, baik kecakapan personal (personal
skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness)
dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social
skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan
vokasional (vocational skill). Kegiatan pendidikan pada tahap melatih
lebih mengarah pada konsep pengembangan kemampuan motorik peserta didik.
Terkait dengan proses melatih ini, perlu dilakukan pembiasaan dan pengkondisian
anak dalam berpikir secara kritis, strategis dan taktis dalam proses
pembelajaran. Peserta didik dilatih memahami, merumuskan, memilih cara
pemecahan dan memahami proses pemecahan “masalah”. Berangkat dari
kondisi tersebut, maka budaya
instant dalam pembelajaran yang
selama ini dibudayakan harus ditinggalkan, menuju proses pemberdayaan seluruh
unsur dalam sistem pembelajaran.
Untuk
membekali terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di era global dalam
mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang unggul, diperlukan strategi
pengembangan pendidikan, antara lain:
1. Mengedepankan model perencanaan pendidikan
(partisipatif) yang berdasarkan pada need assessment dan karakteristik masyarakat.
2. Pemerintah hendaknya berperan sebagai
katalisator, fasilitator dan pemberdaya masyarakat.
3. Penguatan fokus pendidikan, yaitu fokus
pendidikan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat, kebutuhan stakeholders, kebutuhan pasar
dan tuntutan teman saing (kompetif).
4. Pemanfaatan sumber luar (out sourcing),
memanfaatkan berbagai potensi sumber daya (belajar) yang ada, lembaga-lembaga
pendidikan yang ada, pranata-pranata kemasyarakatan, perusahaan/industri, dan
lembaga lain yang sangat peduli pada pendidikan.
5. Memperkuat kolaborasi dan jaringan kemitraan
dengan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah mapun non pemerintah,
bahkan baik dari lembaga di dalam negeri maupun dari luar negeri.
6. Menciptakan soft
image pada masyarakat sebagai
masyarakat yang gemar belajar, sebagai masyarakat belajar seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar