Prinsip-Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah konsep-konsep yang
harus diterapkan didalam proses belajar mengajar . Seorang guru akan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia dapat menerapkan cara mengajar
yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat
mengotrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai
dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinisp-prinsip belajar
itu. Pentingnya guru memahami prinsip dari teori belajar menurut Lindgren dalam
Toeti Sukamto (1992: 14 ) mempunyai alasan sebagai berikut :
Teori belajar ini membantu guru untuk
memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri siswa, Dengan kondisi ini
guru dapat mengerti kandisi0kondisi dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi,
memperlancar atau menghambat proses belajar; Teori ini memungkinkan guru
melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu
aktifitas belajar;
Teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah diuji kebenarannya melalui experimen dan penelitian. Dengan mempelajari teori belajar pengertian seseorang tentang bagaimana terjadinya proses belajar akan meningkat , Oleh karenanya sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari berbagai teori belajar.
Teori belajar merupakan sumber hipotesis atau dugaan-dugaan tentang proses belajar yang telah diuji kebenarannya melalui experimen dan penelitian. Dengan mempelajari teori belajar pengertian seseorang tentang bagaimana terjadinya proses belajar akan meningkat , Oleh karenanya sangatlah penting bagi seorang guru untuk memiliki pengetahuan tentang prinsip-prinsip dari berbagai teori belajar.
Ada banyak teori-teori belajar , setiap teori
memiliki konsep atau prinsip sendiri tentang belajar. Berdasarkan berbedaan
sudat pandang ini maka teori belajar tersebut dapat dikelompokan. Teori belajar
yang terkemuka diabad 20 ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu
kelompok teori bahaviorisme dan kelompok teori kognitivisme. (Arif Sukadi,1987)
Menurut kelompok teori behaviorisme, manusia
sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang akan
memberikan pengalaman-pengalamn belajar. Belajar adalah proses perubahan tingkahlaku
yang terjadi karena adanya stimuli dan respon yang dapat diamati. Menurut teori
ini manupulasi lingkungan sangat penting agar dapat diperoleh perubahan tingkah
laku yang diharapkan . Teori behaviorisme ini sangat menekankan pada apa yang
dapat dilihat yaitu tingkah laku, tidak memperhatikan apa yang terjadi didalam
fikiran manusia. Para ahli pendidikan menganjurkan untuk menerapkan prinsip
penguatan (reinforcement) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang
penting dan mengatur kondisi pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa
berhasil mencapai tujuan. Dalam menerapkan teori ini yang terpenting adalah
guru harus memahami karakteristik si belajar dan karakteristik lingkungan
belajar agat tingkat keberhasilan siswa selama kegiatan pembelajaran dapat
diketahui. Tuntutan dari teori ini adalah pentingnya merumuskan tujuan belajar
secara jelas dan spesifik supaya mudah dicapai dan diukur.
Prinsip-prinsip teori behaviorisme yang
banyak diterapkan didunia pendidikan meliputi (Hartley & Davies, 1978 dalam
Toeti S. 1992:23) :
Proses belajar dapat terjadi dengan baik bila
siswa ikut dengan aktif didalamnya Materi pelajaran disusun dalam urutan yang
logis supaya siswa dapat dengan mudah mempelajarinya dan dapat memberikan
respon tertentu; Tiap-tiap respon harus diberi umpan balik secara langsung
supaya siswa dapat mengetahui apakah respon yang diberikannya telah benar; Setiap
kali siswa memberikan respon yang benar maka ia perlu diberi penguatan. Prinsip-prinsip
bihaviorisme diatas telah banyak digunakan dan diterapkan dalam berbagai
program pendidikan. Misalnya dalam pengajaran berprogram dan prinsip belajar
tuntas (mastery learning). Dalam pengajaran berprogram materi pelajaran
disajikan dalam bentuk unit-unit terkecil yang mudah dipelajari siswa, bila setiap
unit selesai siswa akan mendapatkan umpanbalik secara langsung. Sedangkan dalam
mastery learing materi dipecah perunit, dimana siswa tidak dapat pindah keunit
di atasnya bila belum menguasai unit yang dibawahnya.
Kelompok teori kognitif beranggapan bahwa
belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk
memperoleh pemahaman. Dalam model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh
persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan dan
perubahan tingkahlaku sangat dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang
terjadi selama proses belajar.
Prinsip-prinsip teori kognitifisme; menurut
teori kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak
selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini menekankan pada gagasan
bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan kontek situasi
secara keseluruhan. Yang termasuk dalam kelompok teori ini adalah teori
perkembangan Piaget, teori kognitif Bruner, teori belajar bermakna Ausebel dll.
Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget perkembangan kognitif
merupakan suatu proses genetik yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme
biologis yaitu perkembangan sistem syaraf. Dengan bertambahnya umur maka
susunan syaraf seseorang akan semakin komplek dan ini memungkinkan kemampuannya
meningkat (Traves dalam Toeti 1992:28). Oleh karena itu proses belajar
seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan
umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarkis yaitu melalui tahap-tahap tertentu
sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu diluar
kemampuan kognitifnya. Ada empat tahap perkembangan kognitif anak yaitu
Tahap sensorikmotorik yang bersifat internal
( 0-2 tahun)
Tahap preoperasional (2-6 tahun )
Tahap operasional konkrit (6-12 tahun)
Tahap formal yang bersifat internal (12-18
tahun)
Teori kognitif Bruner
Menurut Bruner perkembangan kognitif
seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat
lingkungan. Tahap pertama adalah tahap enaktif, dimana siswa melakukan
aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Tahap kedua adalah
tahap ikonik dimana ia melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi
verbal. Tahap ketiga adalah tahap simbolik, dimana ia mempunyai gagasan-gagasan
abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan
dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa sistem simbol ini samakin
dominan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak
usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting
bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan
lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan
mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan
adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai
dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap
perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini
adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif
kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (discovery learning)
Teori belajar bermakna menurut Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna,
dimana materi yang dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan
berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly
& Lewis, (1983) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran bermakna
yaitu Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai dengan
tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu; Diberikan dalam situasi belajar
yang bermakna;
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut :
Prinsip-prinsip teori belajar bermakna Ausebel ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar melalui tahap-tahap sebagai berikut :
mengukur kesiapan mahasiswa seperti minat,
kemampuan dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, review ,
pertanyaan-pertanyaan dan lain-lain tehnik; memilih materi-materi kunci lalu
penyajiannya diatur dimulai dengan contoh-contoh kongkrit dan kontraversial;
mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu; menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari, memakai advan organizers;
mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada Menurut Hartley & Davies (1978), Prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah
mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasi dari materi baru itu; menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari, memakai advan organizers;
mengajar mahasiswa memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan fokus pada hubungan-hubungan yang ada Menurut Hartley & Davies (1978), Prinsip-prinsip kognitifisme dari beberapa contoh diatas banyak diterapkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam melaksanakan kegiatan perancangan pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah
Mahasiswa akan lebih mampu mengingat dan
memahami sesuatu apabila pelajaran tersebut disusun berdasarkan pola dan logika
tertentu; Penyusunan materi pelajaran harus dari yang sederhana ke yang rumit.
Untuk dapat melakukan tugas dengan baik mahasiswa harus lebih tahu tugas-tugas
yang bersifat lebih sederhana; Belajar dengan memahami lebih baik dari pada
menghapal tanpa pengertian. Sesuatu yang baru harus sesuai dengan apa yang
telah diketahui siswa sebelumnya. Tugas guru disini adalah menunjukkan hubungan
apa yang telah diketahui sebelumnya;
Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. (dalam Toeti Soekamto 1992:36)
Adanya perbedaan individu pada siswa harus diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Perbedaan ini meliputi kemampuan intelektual, kepribadian, kebutuhan akan suskses dan lain-lain. (dalam Toeti Soekamto 1992:36)
Prinsip-prinsip (teori) Pembelajaran
Berbeda dengan teori belajar maka teori
pembelajaran persifat preskriptif. Teori pembelajaran berusaha merumuskan
cara-cara untuk membuat orang dapat belajar dengan baik. Ia tidak semata-mata
merupakan penerapan dari teori atau prinsip-prinsip belajar walaupun
berhubungan dengan proses belajar.
Dalam teori pembelajaran dibicarakan tentang
prinsip-prinsip yang dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam
pembelajaran dan bagaimana menyelesaikan masalah yang terdapat dalam
pembelajaran sehari hari. (Snelbaker,) Teori pembelajaran tidak saja berbicara
tentang bagaimana manusia belajar tetapi juga mempertimbangkan hal-hal lain
yang mempengaruhi manusia secara psycologis, biografis, antropologis dan
sosiologis. Tekanan utama teori ini adalah prosedur yang telah terbukti
berhasil meningkatakan kualitas pembelajaran yaitu ;
Belajar merupakan suatu kumpulan proses yang
bersifat individu, yang merubah stimuli yang datang dari lingkungan seseorang
ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil
belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang. Hasil-hasil belajar ini memberikan
kemampuan melakukan berbagai penampilan; Kemampuan yang merupakan hasil belajar
ini dapat dikatagorikan sebagai
a.
bersifat praktis dan
teoritis.
Kejadian-kejadian di dalam
pembelajaran yang mempengaruhi proses belajar dapat di kelompokkan ke dalam
kategori umum, tanpa memperhatikan hasil belajar yang diharapkan. Namun
tiap-tiap hasil belajar memerukan adanya kejadian-kejadian khusus untuk dapat
terbentuk. (Gagne 1985 : )
Dari uraian di atas tampak bahwa teori
pembelajaran merupakan suatu kumpulan prinsip-prinsip yang terintegrasi dan
memberikan preskripsi untuk mengatur situasi agar siswa mudah mencapai tujuan
belajar. Prinsip-prinsip pembelajaran dapat diterapkan dalam pembelajaran
tatapmuka dikelas maupun tidak seperti pembelajaran jarak jauh, terprogram dll.
Teori pembelajaran juga memberi arahan dalam memilih metode pengajaran yang
mana yang paling tepat untuk suatu pembelajaran tertentu. Sehubungan dengan itu
berdasarkan teori yang mendasarinya yaitu teori psikologi dan teori belajar
maka teori pembelajaran ini dapat dibagi ke dalam lima kelompok yaitu
Pendekatan modifikasi tingkahlaku; teori
pembelajaran ini menganjurkan agar para guru menerapkan prinsip penguatan
(reinforcment) untuk mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan
mengatur kondisi sedemikian rupa yang memungkinkan siswa dapat mencapai
tujuan-tujuan pembelajaran. Untuk itu guru sangat penting untuk mengenal
karakteristik siswa dan karakteristik situasi belajar sehingga guru dapat
mengetahui setiap kemajuan belajar yang diperoleh siswa.
Teori Pembelajaran Konstruk Kognitif; teori
ini diturunkan dari prinsip/teori belajar kognitifisme. Menurut teori ini
prinsip pembelajaran harus memperhatikan perubahan kondisi internal siswa yang
terjadi selama pengalaman belajar diberikan di dikelas. Pengalaman belajar yang
diberikan oleh siswa harus bersifat penemuan yang memungkinkan siswa dapat
memperoleh informasi dan ketrampilan baru dari pelajaran sebelumnya .(Bruner…)
Teori pembelajaran berdasarkan
prinsip-prinsip belajar;
Dari berbagai teori belajar yang ada,
Bulgelski (dalam Snelbecer : ) mengidentifikasi beberapa puluh prinsip kemudian
dipadatkan menjadi empat prinsip dasar yang dapat diterapkan oleh para guru
dalam melaksanakan tugas mengajar. Ke empat prinsip dasar tersebut adalah
Untuk belajar siswa harus mempunyai perhatian
dan responsif terhadap materi yang akan diajarkan. Jadi materi pembelajaran
harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian si belajar. Semua
proses belajar memerlukan waktu, dan untuk suatu waktu tertentu hanya dapat
dipelajari sejumlah materi yang sangat terbatas. Di dalam diri orang yang
sedang belajar selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat
mengotron motivasi serta menentukan sejauh mana dan dalam bentuk apa seseorang
bertindak dalam suatu situasi tertentu.
Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata. Teori Pembelajaran berdasarkan analisis tugas; teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh di dalam proses belajar merupakan faktor penting sebagai pengontrol. Disini ditekankan juga perlunya kesamaan antara situasi belajar dengan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kehidupan nyata. Teori Pembelajaran berdasarkan analisis tugas; teori pembelajaran yang ada diperoleh dari berbagai penelitian dilaboratorium dan ini dapat diterapkan dalam situasi persekolahan namun hasil penerapannya tidak selalui memuaskan oleh karena itu sangat penting untuk mengadakan analisis tugas (task analysis) secara sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa, yang kemudian disusun secara hierarkis dan diurutkan sedemikian rupa tergantung dari tujuan yang ingin dicapai.
Teori Pembelajaran berdasarkan Psikologi
Humanistik; teori pembelajaran ini sangat menganggap penting teori pembalajaran
dan psikoterapi dari suatu teori belajar. Prinsip yang harus diterapkan adalah
bahwa guru harus memperhatikan pengalaman emosional dan karakteristik khusus
siswa seperti aktualisasi diri siswa. Dengan memahami hal ini dapat dibuat
pilihan-pilihan kearah mana siswa akan berkembang.
Agar belajar bermakna inisiatif siswa harus
dimunculkan dengan kata lain siswa harus selalu dilibatkan dalam proses belajar
mengajar. Pengajaran yang cocok untuk hal ini adalah dengan pengajaran
eksperimental. (Toeti S. 1992:47)
Transfer Belajar (Transfer of Learning)
Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa
Inggris “Transfer of learning” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil
belajar dari matapelajaran yang satu ke matapelajaran yang lain atau dari
kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau
pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar
yang diperoleh dan dapat dipindahkan tsb. dapat berupa pengetahuan (informasi
verbal), kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dll. Bila
hasil belajar (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu proses
belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi ransfer belajar yang disebut
transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa untuk
memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan atau
pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang kemudian
maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar
maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali si belajar dengan
kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karenanya pelu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar
positip dapat terjadi.
Apa saja harus diperhatikan seorang guru agar
proses transfer belajar berlangsung secara positif ? seorang guru perlu
menciptakan kondisi yang kondusif untuk terjadinya tansfer beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah :
Kemampuan Asli Si belajar Keefektifan /
kelancaran atau kemudahan transfer banyak dipengaruhi oleh kemampuan awal siswa
atau pengetahuan yang lebih dahulu diketahui atau dikuasai. Suatu transfer akan
mudah terjadi bila siswa sudah memiliki kemampuan awal yang berhubungan dengan
materi tsb. Oleh karenanya untuk memudahkan proses transfer guru perlu
mengetahui terlebih dahulu kemampuan awal siswa mengenai materi yang akan
diajarkan.
Kebermaknaan materi/bidang studi bagi si belajar Transfer belajar akan terjadi dengan lancar bila siswa merasakan/mengetahui kebermaknaan materi yang dipelajari bagi dirinya atau kehidupannya. Adanya makna/arti terhadap materi yang dipelajari akan menjadi pendorong bagi siswa untuk mempelajari materi tsb. Kebermaknaan ini pun akan memperlancar proses transfer.
Cara Mengajar Transfer akan mudah terjadi bila penyajian materi dilakukan guru dengan menarik dan menggunakan berbagai matode yang bervariasi sehingga menarik dan meninggalkan kesan yang positif bagi siswa. Cara mengajar ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan kondisi / keadaan siswa yang dapat memotivasi siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Apa ada hubungan antara transfer belajar dengan pengembangan kurikulum ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa pandangan mengenai hakekat belajar dan apa konsekwensinya terhadap pengembangan kurikulum di sekolah.
Kebermaknaan materi/bidang studi bagi si belajar Transfer belajar akan terjadi dengan lancar bila siswa merasakan/mengetahui kebermaknaan materi yang dipelajari bagi dirinya atau kehidupannya. Adanya makna/arti terhadap materi yang dipelajari akan menjadi pendorong bagi siswa untuk mempelajari materi tsb. Kebermaknaan ini pun akan memperlancar proses transfer.
Cara Mengajar Transfer akan mudah terjadi bila penyajian materi dilakukan guru dengan menarik dan menggunakan berbagai matode yang bervariasi sehingga menarik dan meninggalkan kesan yang positif bagi siswa. Cara mengajar ini berhubungan dengan kemampuan guru untuk mengkaitkan materi pelajaran dengan kondisi / keadaan siswa yang dapat memotivasi siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Apa ada hubungan antara transfer belajar dengan pengembangan kurikulum ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa pandangan mengenai hakekat belajar dan apa konsekwensinya terhadap pengembangan kurikulum di sekolah.
Teori Generalisai
Menurut teori ini transfer belajar lebih
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan
prinsip umum. Bila seorang siswa mampu menangkap konsep, kaidah dan prinsip
untuk memecahkan persoalan maka siswa itu mempunyai bekal yang dapat
ditransferkan ke bidang-bidang lain diluar bidang studi dimana konsepo, kaidah
dan prinsip itu mula-mula diperoleh. Maka siswa itu dikatakan mampu mengadakan
“generalisasi” yaitu mampu menangkap ciri-ciri atau sifat-sifat umum yang
terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi semacam itu sudah terjadi
bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip dan siasat-siasat pemecahan
problem. Jadi kesamaan antara dua bidang studi tsb. tidak terdapat dalam
unsur-unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam
prinsip.
Teori elemen identik
Pandangan ini dipelapori oleh Edwar Thorndike
yang mengatakan bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi
yang lain atau dari pengalaman hidup sehari-hari terjadi berdasarakan adanya
unsur-unsur yang sama (identik) dalam kedua bidang studi itu. Makin banyak
unsur yang sama maka akan semakin besar terjadinya transfer belajar. Dengan
kata lain terjadinya transfer belajar sangat tergantung dari banyak sedikitnya
kesamaan unsur-unsur. Misalnya antara bidang studi aljabar dan ilmu ukur dll.
Menurut teori ini hakekat transfer belajar
adalah pengalihan dari penguasaan suatu unsur tertentu pada bidang studi yang
lain, makin banyak adanya unsur-unsur yang sama akan semakin besar terjadinya
transfer belajar positip.
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi
pendidikan mengatakan bahwa transfer dapat digolongkan dalam empat kategori
yaitu transfer positip, transfer negatif, transfer vertikal dan transfer
lateran.
Transfer positip dapat terjadi dalam diri
seseorang apabila guru membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu
dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer
positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang
lain.
Transfer negatif dialami seseorang apabila si
belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap
ketrampilan/pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubungan dengan
ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindarkan siswa-siswanya dari situasi
belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar
dimasa depan.
Transfer vertikal (tegak); terjadi dalam diri
seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu
membantu siswa tsb. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih
tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau
perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar
memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa
secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan
materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari
dengan materi lain yang akan dipelajari dikelas yang lebih tinggi diharapkan ia
akan mengikuti pelajaran ini dengan lebih serius.
Transfer lateral (ke arah samping) terjadi
pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk
mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi
lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil
belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan
menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang
lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh
lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan
mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat
kerumitan yang hampir sama.
Teori
Belajar, Program Dan Prinsip Pembelajaran
Oleh: Riwayat
1. Teori Disiplin Mental
Sebelum abad ke-20, telah
berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin
mental. Teori belajar ini
dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya
adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato
dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar,
mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.
2. Teori
Behaviorisme
Rumpun
teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah
laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori
dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu
terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Beberapa ciri dari
rumpun teori ini, yaitu:
a. Mengutamakan
unsur-unsur atau bagian-bagian kecil
b. Bersifat
mekanistis
c. Menekankan
peranan lingkungan
d. Mementingkan
pembentukan reaksi atau respons
e. Menekankan
pentingnya latihan
Ada
beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:
a. Teori
Koneksionisme
Menurut
teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya
berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama.
Selanjutnya,
dalam teori koneksionisme dikemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut:
1) Hukum
Kesiapan (Law of Readiness)
Dimana
hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan
dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa
keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya
kesiapan.
2) Hukum Latihan (Law
of Exercise)
Hukum
ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons.
Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan
semakin dikuasainya pelajaran itu.
3) Hukum Akibat (Law
of Effect)
Hukum ini menunjuk kepada
kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang
ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar
seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar
menyenangkan dirinya,
b. Teori Pengkondisian (Conditioning)
Teori pengkondisian (conditioning) merupakan
pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan
Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.
c. Teori Penguatan (Reinforcement)
Kalau pada teori
pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah
perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang
dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan
giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka
guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian,
atau hadiah. Berkat pemberian
penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih
bersemangat lagi. Hadiah itu me-reinforce hubungan antara stimulus
dan respons.
d. Teori Operant
Conditioning
Psikologi
penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan
lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh
utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan
proses“conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa
timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan
respons.
3. Teori Cognitive
Gestalt-Filed
Teori
kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini,
bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan
bukan respons.
Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah
tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak
terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi
permasalahan.
Dalam
perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun
psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu,
alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan,
suatu keterpaduan.
Beberapa
prinsip penerapan teori belajar ini adalah:
a. Belajar
itu berdasarkan keseluruhan
Teori
Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari
bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna
dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari
fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah
itu siswa dapat mempelajari fakta.
b. Anak yang
belajar merupakan keseluruhan
Prinsip
ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya
mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak
seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan
fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada
dalam diri anak.
c. Belajar
berkat insight
Telah
dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan
antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu
akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan.
Belajar bukanlah menghafal fakta.
d. Belajar
berdasarkan pengalaman
Pengalaman
adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku
individu.
C. Prinsip-Prinsip
Pengajaran
Tugas
guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien,
ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta
memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada beberapa prinsip pengajaran
diantaranya adalah:
Prinsip Aktivitas
Pengalaman
belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan
dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil
mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas
psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota
badan. Dalam prinsip ini, maka tugas guru
dalam mengajar antara lain:
Prinsip Motivasi
Motivasi
berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau
keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar
diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau
kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa,
yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan. Beberapa cara untuk menumbuhkankembangkan motivasi pada
siswa adalah:
Prinsip Individualitas
(Perbedaan Individu)
Setiap
manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas.
Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan
karena:
a. Setiap
anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbedaan.
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut
teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu
saja dari pikiran
guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun
struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya.
Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap
diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992:
30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai
berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan
secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam
pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan
dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley
(1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam
pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak
dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa.
Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui
pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Kedua
pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara
aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu
pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4)
mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar
itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk
mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang
akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu
diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3)
mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1)
siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka
miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3)
strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk
berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar
konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan
dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi
kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi
lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba
gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah
dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka,
dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Tujuan Belajar Dan Pembelajaran
Dalam segala kegiatan pasti mempunyai tujuan,
begitu juga dengan belajar dan pembelajaran. Tujuan adalah pernyataan yang
menyelaraskan hasil yang ingin dicapai atau tempat yang akan dituju. Maka
tujuan belajar dan pembelajaran adalah pernyataan yang menjelaskan hasil yang
ingin dicapai dalam perbuatan pembelajaran, dalam hal ini adalah menunjukkan
hasil belajar yang diinginkan guru untuk dicapai siswa. Hasil mengenai apa,
bergantung dari mata pelajaran apa yang diajarkan (Kardisaputra, 2000: 109).
Sejalan dengan uraian tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa tujuan
belajar dan pembelajaran adalah hal yang ingin dicapai setelah proses belajar
mengajar berlangsung. Tujuan ini bisa ditentukan bersama antara guru dan siswa,
namun pada kenyataannya gurulah yang lebih banyak berperan.
Seiring dengan perkembangan yang berlangsung
pada dunia pendidikan, seperti halnya perkembangan dan perubahan yang terjadi
pada kurikulum, tujuan belajar dan pembelajaran pun mengalami perubahan pula.
Dulu dikenal dengan istilah tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan
intruksional khusuk (TIK), kemudian diganti dengan istilah tujuan pembelajaran
umum (TPU) dan tujuan pembelajaran husus (TPK), kini berubah dengan istilah
standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Dalam kurikulum 2004
indikator pembelajar telah disediakan dalam kurikulum, namun dalam kurikulum
tingkat satuan pendidikan, indikator ini harus dikembangkan sendiri oleh guru
dari standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) yang telah ada.
A.
Tujuan belajar
Tujuan
belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah
melakukan tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan,keterampilan dan
sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. tujuan belajar
adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh
siswa setelah berlangsungnya proses belajar.
Tujuan belajar menurut Sukandi (1983: 18) adalah mengadakan perubahan tingkah laku dan perbuatan. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai pengetahuan atau penerimaan dan penghargaan. Sedangkan Surakhmat(1986) mengatakan bahwa tujuan belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, penanaman konsep dan pengetahuan, dan pembentukan sikap dan perbuatan.
Komponen tujuan belajar.
Tujuan belajar menurut Sukandi (1983: 18) adalah mengadakan perubahan tingkah laku dan perbuatan. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai pengetahuan atau penerimaan dan penghargaan. Sedangkan Surakhmat(1986) mengatakan bahwa tujuan belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, penanaman konsep dan pengetahuan, dan pembentukan sikap dan perbuatan.
Komponen tujuan belajar.
Tujuan
belajar terdiri dari tiga komponen yaitu: Tingkah laku terminal kondisi-kondisi
tes, dan standar perilaku.
1.
Tingkah laku terminal adalah komponen tujuan belajar yang menentukan tingkah
laku siswa setelah belajar. tingkah laku itu merupakan bagian tujuan yang
menunjuk pada hasil yang diharapkan dalam belajar.
2.
Kondisi-kondisi tes, komponen ini menentukan situasi dimana siswa dituntut
untuk mempertunjukkan tingkah laku terminal. kondisi-kondisi tersebut perlu
disiapkan oleh guru, karena sering terjadi ulangan/ ujian yang diberikan oleh
guru tidak sesuai dengan materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya.
Ada
tiga kondisi yang dapat mempengaruhi perilaku saat tes. pertama, alat dan
sumber yang harus digunakan oleh siswa dalam upaya mempersiapkan diri untuk
menempuh suatu tes, misalnya buku sumber. kedua, tantangan yanng disediakan
terhadap siswa, misalnya pembatasan waktu untuk mengerjakan tes. ketiga, cara
menyajikan informasi, misalnya dengan tulisan atau dengan rekaman dan lain-lain.
3.
Ukuran-ukuran perilaku,komponen ini merupakan suatu pernyataan tentang ukuran
yang digunakan untuk membuat pertimbangan mengenai perilaku siswa. suatu ukuran
menentukan tingkat minimal perilaku yang dapat diterima sebagai bukti, bahwa
siswa telah mencapai tujuan, misalnya: siswa telah dapat memecah suatu masalah
dalam waktu 10 menit. Ukuran-ukuran perilaku tersebut dirumuskan dalam bentuk
tingkah laku yang harus dikerjakan sebagai lambang tertentu, atau ketepatan
tingkah laku, atau jumlah kesalahan, atau kedapatan melakukan tindakan, atau
kesesuainya dengan teori tertentu.
B.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan
yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan
dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Proses
pembelajaran adalah proses membantu siswa belajar,yang ditandai dengan
perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Seorang
guru hanya dapat dikatakan telah melakukan kegiatan pembelajaran jika terjadi
perubahan perilaku pada diri peserta didik sebagai akibat dari kegiatan
tersebut. Ada hubungan fungsional antara perbuatan guru dengan perubahan
perilaku peserta didik (Kartadinata, 1997: 75).
Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat
dikatakan sebagai dampak dari proses pembelajaran. Dampak pembelajaran adalah
hasil belajar yang segera dapat diukur, yang terwujud dalam hasil evaluasi
pembelajaran. Dampak pembelajaran dapat dibedakan atas dampak intruksional
(instructional effeck) dan dampak tak langsung atau dampak iringan (nurturant
effeck). Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan
pembelajaran yang telah diprogramkan sebelumnya, sedangkan dampak iringan
muncul sebagai pengaruh atau terjdi sebagai pengalaman dari lingkungan belajar.
Menurut (Kartadinata (1997), dampak iringan bisa berwujud dalam bentuk
pemahaman, apresiasi, sikap, motivasi, kesadaran , keterampilan sosial, dan
perilaku sejenis lainnya.
Di dalam proses pembelajaran guru tidak
sekedar bertugas mentransfer pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses
pembelajaran dipandang sebagai proses membantu peserta didik belajar, membantu
peserta didik mengembangkan dan mengubah perilaku (kognitif, afektif dan
psikomotorik); membantu menerjemahkan semua aspek tersebut ke dalam
perilaku-perilaku yang berguna dan bermakna.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian tujuan pembelajran yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut:
1) Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian tujuan pembelajran yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut:
1) Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
2) Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981)
menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan
dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk
menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
3) Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
3) Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.
4) Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa
tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang
diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat
memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih
Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran,
yaitu: Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar
kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih
mandiri; Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar; Membantu memudahkan
guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran; Memudahkan guru
mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008
tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk
untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan
waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur
pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar
siswa. Tujuan belajar dan pembelajaran yang lebih spesifik dikemukakan oleh
taksonomi Instruksional Bloom. Menurut Bloom, siswa belajar berarti menggunakan
kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Ranah
kognitif terdiri dari enam jenis perilaku, sebagai berikut:
1) Pengetahuan, yang berkenaan dengan ingatan
tentang fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip atau metode.
2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap
arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
3) Penerapan, kemampuan mengaplikasi yang
mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang
nyata dan baru.
4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu
kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami
dengan baik. Misalnya dapat menguraikan sebab-sebab terjadinya sesuatu, dan
memahami hubungan antar bagian-bagiannya.
5) Sintesis, adalah proses memadukan bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun program kerja.
5) Sintesis, adalah proses memadukan bagian-bagian atau unsure-unsur secara logis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun program kerja.
6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk
pendapat, menilai, dan menentukan keputusan tentang suatu hal berdasarkan
criteria tertentu. Misalnya kemampuan menilai hasil karangan.
Ranah afektif terdiri dari lima perilaku,
yakni:
1) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang
hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya kemampuan
mengakui adanya perbedaan-perbedaan.
2) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpatisipasi dalam suatu kegiatan.
2) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpatisipasi dalam suatu kegiatan.
3) Penilaian dan penentuan sikap yang
mencakup menerima suatu nilai, menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
Misalnya dapat menerima pendapat orang lain.
4) Organisasi, mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya menempatkan suatu nilai dan menjadikannya sebagai pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
4) Organisasi, mencakup kemampuan membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup. Misalnya menempatkan suatu nilai dan menjadikannya sebagai pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
5) Pembentukan pola hidup, yang mencakup
menghayati nilai dan membentuknya menjadi pola kehidupan pribadi. Misalnya,
kemampuan mempermbangkan dan menunjukkan tindakan disiplin.
Sedangkan ranah psikomotorik terdiri dari
tujuh perilaku, yaitu:
1) Persepsi, yang mencakup kemampuan
memilah-milah hal-hal secara khas serta menyadari perbedaannya. Misalnya
perbedaan warna, membedakan angka 6 (enam) dan 9 (sembilan).
2) Kesiapan, yang mencakup kesiapan secara
jasmani dan rohani sebelum terjadinya suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
3) Gerakan terbimbing, kemampuan melakukan
gerakan sesuai contoh atau gerakan peniruan, seperti meniru gerak tari.
4) Gerakan terbiasa, kemampuan melakukan
gerakan-gerakan tanpa contoh. Misalnya melakukan lompat tinggi dengan tepat.
5) Gerakan kompleks, yaitu kemampuan
melakukan gerakan atau keterampulan yang terdiri dari banyak tahap, secara
lancer, efisien dan tepat. Misalnya membongkar pasang peralatan secara tepat.
6) Penyesuaian pola gerakan, mencakup
kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerak dengan
persyaratan khusus yang berlaku. Misalnya keterampilan bertanding olahraga.
7) Kreativitas, yang mencakup kemampuan
melahirkan pola gerak yang baru atas dasar prakarsa sendiri. Misalnya kemampuan
membuat tari kreasi baru (Dimyati, 2000).
Masalah-Masalah Internal Belajar
Masalah-Masalah Internal Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar siswa
merupakan kunci utama keberhasilan belajar, selama proses belajar yang
dilakukan. Aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Untuk bertindak
belajar siswa menghadapi masalah secara internal.
Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya,
maka ia tidak dapat belajar dengan baik. Terdapat beberapa fakyor internal yang
dialami dan di hayati oleh siswa dan hal ini akan sangat mempengaruhi terhadap
proses belajar, dan faktor-faktor itu akan uraikan sebagai berikut.
A. Sikap Terhadap Belajar.
A. Sikap Terhadap Belajar.
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian
tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian
terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikan begitu
saja, selama melakukan proses pembelajaran siswa akan menetukan hasil dari
pembelajaran tersebut.
Pemahaman siswa yang salah terhadap belajara
akan membawa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa
ini akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan
membwa siswa merasa tidak peduli dengan belajar lagi, akibatnya tidak akan
terjadi proses belajar yang kondusif. Tentunya hal ini akan sangat menghambat
proses belajar, sikap siswa terhadap belajar akan menentukan proses belajar itu
sendiri. Ketika siswa tidak peduli terhadap belajar maka upaya pembelajaran
yang dilakukan akan sia-sia. Karena itu siswa sebaiknya mempertimbangkan
masak-masak terhadap sikap belajar.
B.
Motivasi Belajar
Tidak
diragukan lagi bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbukan
semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat
yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin
kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus
dipelihara secara terus menerus. Motivasi belajar merupakan kekuatan mental
yang mendorong terjadinya proses belajar, lemahkanya motivasi atau tiadanya
motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu akan
menjadi rendah.
Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Motivasi yang diberikan dapat meliputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu, bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dam betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa harus untuk menuntut ilmu. Selain itu, bagaimana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu, bila seseorang merasa membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri, sehingga semangat siswa untuk menuntut ilmu sangat tinggi dan hal ini akan sangat memudahkan proses belajar.
C. Konsentrasi Belajar
Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Motivasi yang diberikan dapat meliputi penjelasan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan mencari ilmu, bila siswa mengetahui betapa besarnya keutamaan sebuah ilmu dam betapa besarnya ganjaran bagi orang yang menuntut ilmu, maka siswa akan merasa harus untuk menuntut ilmu. Selain itu, bagaimana seorang guru mampu membuat siswanya merasa membutuhkan ilmu, bila seseorang merasa membutuhkan ilmu maka tanpa disuruhpun siswa akan mencari ilmu itu sendiri, sehingga semangat siswa untuk menuntut ilmu sangat tinggi dan hal ini akan sangat memudahkan proses belajar.
C. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi
belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Memusatkan
perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.
Sebab ketikan awal masuk kelas perhatian siswa masih terpecah-pecah dengan
berbagai masalah. Sehingga sangat perlu untuk melakukan pemusatan perhatian
dengan berbagai cara menurut ahli psikologi kekuatan belajar seseorang setelah
30 menit telah mengalami penurunan, disarankan guru melakukan istirahat bebrapa
menit, istirahat tidak harus di luar kelas melainkan dapat berupa obrolan
ringan yang mampu membuat siswa rileks kembali dengan memberikan istirahat.
Maka perhatian dan prestasi dapat ditingkatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar