Model
pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas.
Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik
dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Guru perlu menguasai dan
dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang meliputi pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran secara spesifik.
Penguasaan model pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif , menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 19)
Penguasaan model pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif , menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 19)
Adakah Model Pembelajaran
yang Paling Efektif?
-
Tidak ada model pembelajaran yang paling efektif untuk semua mata pelajaran
atau untuk semua materi.
- Pemilihan model pembelajaran untuk diterapkan guru di dalam kelas mempertimbangkan beberapa hal:
1. tujuan pembelajaran
2. sifat materi pelajaran
3. ketersediaan fasilitas
4. kondisi peserta didik
5. alokasi waktu yang tersedia
- Pemilihan model pembelajaran untuk diterapkan guru di dalam kelas mempertimbangkan beberapa hal:
1. tujuan pembelajaran
2. sifat materi pelajaran
3. ketersediaan fasilitas
4. kondisi peserta didik
5. alokasi waktu yang tersedia
Apa saja model Pembelajaran
yang ada?
Setidaknya
ada sekitar 35 Model Pembelajaran yang telah dikembangkan oleh para ahli di
bidang pendidikan, yaitu :
1. Examples Non Examples
2. Picture and Picture
3. Numbered Head Together
4. Cooperative Script
5. Kepala Berstruktur
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
7. Jigsaw (Model Tim Ahli)
8. Problem Based Introduction (PBI)
9. Artikulasi
10. Mind Mapping
11. Make a Match
12. Think Pair and Share
13. Debate
14. Role Playing
15. Group Investigation
16. Talking Stick
17. Bertukar Pasangan
18. Snowball Throwing
19. Student Fasilitator and Explaining
20. Course Review Horay
21. Demonstration
22. Explisit Introduction
23. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
24. Inside - Outside - Circle (Lingkaran Kecil - Lingkaran Besar)
25. Tebak Kata
26. Word Square
27. Scramble
28. Complette Sentence
29. Take and Give
30. Concept Sentence
31. Tim Token Arends 1998
32. Pair Check - Spencer Kagen 1993
33. Keliling Kelompok
34. Tari Bambu
35. Dua Tinggal, Dua Tamu
1. Examples Non Examples
2. Picture and Picture
3. Numbered Head Together
4. Cooperative Script
5. Kepala Berstruktur
6. Student Team Achievement Divisions (STAD)
7. Jigsaw (Model Tim Ahli)
8. Problem Based Introduction (PBI)
9. Artikulasi
10. Mind Mapping
11. Make a Match
12. Think Pair and Share
13. Debate
14. Role Playing
15. Group Investigation
16. Talking Stick
17. Bertukar Pasangan
18. Snowball Throwing
19. Student Fasilitator and Explaining
20. Course Review Horay
21. Demonstration
22. Explisit Introduction
23. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
24. Inside - Outside - Circle (Lingkaran Kecil - Lingkaran Besar)
25. Tebak Kata
26. Word Square
27. Scramble
28. Complette Sentence
29. Take and Give
30. Concept Sentence
31. Tim Token Arends 1998
32. Pair Check - Spencer Kagen 1993
33. Keliling Kelompok
34. Tari Bambu
35. Dua Tinggal, Dua Tamu
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh
Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori
dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya,
mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau
perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir
sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.
Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses
infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian
menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah
ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner,
dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang
berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki
pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau
penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik
memperoleh informasi dari lingkungan.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam
konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya
membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir
(filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang
terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta,
konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus
mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa
dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat
keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih
pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa
terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua
konsep.
Model
Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual adalah
terjemahan dari istilah Contextual Teaching Learning (CTL). Katacontextual berasal
dari kata contex yang berarti “hubungan, konteks, suasana,
atau keadaan”. Dengan demikian contextual diartikan ”yang
berhubungan dengan suasana (konteks). SehinggaContextual Teaching
Learning (CTL) dapat diartikan sebagi suatu pembelajaran yang
berhubungan dengan suasana tertentu.
Pembelajaran
kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang
menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari
terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang
terjadi disekelilingnya.
Pengajaran kontekstual sendiri pertama
kali dikembangkan di Amerika Serikat yang diawali dengan
dibentuknya Washington State Consortum for Contextualoleh
Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Antara tahun 1997 sampai tahun 2001
sudah diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan,
menguji, serta melihat efektifitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara
kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, dan 18 sekolah
dengan mengikutsertakan 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang
sudah diberikan pembekalan sebelumnya.
Penyelenggaraan
program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi sehingga
hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan
pelaksanaannya. Untuk tingkat sekolah, pelaksanaan dari program ini
memperlihatkan suatu hasil yang signifikan, yakni meningkatkan ketertarikan
siswa untuk belajar, dan meningkatkan partisipasi aktif siswa secara
keseluruhan.
Pembelajaran kontekstual berbeda dengan
pembelajaran konvensional, Departemen Pendidikan Nasional (2002:5) mengemukakan
perbedaan antara pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
dengan pembelajaran konvensional sebagai berikut:
|
CTL
|
Konvensional
|
|
Pemilihan informasi kebutuhan individu siswa;
|
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru;
|
|
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin);
|
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu;
|
|
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang
telah dimiliki siswa;
|
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya
diperlukan;
|
|
Menerapkan penilaian autentik melalui melalui penerapan
praktis dalam pemecahan masalah;
|
Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa
ujian/ulang
|
Karakteristik
Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh
komponen utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism),
bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning
Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan
penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap individu dapat
membuat struktur kognitif atau mental berdasarkan pengalaman
mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan
sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk
konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan
lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru.
Menurut
Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
1) Mengandung
pengalaman nyata (Experience);
2) Adanya
interaksi sosial (Social interaction);
3) Terbentuknya
kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4) Lebih
memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas.
Pengetahuan
bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau
diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, pembelajaran harus
dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan (Depdiknas,
2003:6).
Sejalan dengan pemikiran Piaget mengenai
kontruksi pengetahuan dalam otak. Manusia memiliki struktur pengetahuan dalam
otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang
berbeda-beda. Setiap kotak itu akan diisi oleh pengalaman yang dimaknai
berbeda-beda oleh setiap individu. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan
dengan kotak yang sudah berisi pengalaman lama sehingga dapat
dikembangkan. Struktur pengetahuan dalam otak manusia dikembangkan melalui dua
cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
2. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi
utama dalam pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan
oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
pembelajaran yang berbasis inquiry. Dalam sebuah
pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1)
Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2)
Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3)
Membangkitkan respon kepada siswa;
4)
Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5)
Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6)
Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7) Menyegarkan
kembali pengetahuan siswa.
3. Menemukan (Inquiry)
Menemukan
merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis
CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003).
Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran
didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara
sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa
langkah, yaitu :
1)
Merumuskan masalah ;
2)
Mengajukan hipotesis;
3)
Mengumpulkan data;
4)
Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5)
Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis,
diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk
pembentukan kreativitas siswa.
4. Masyarakat
belajar (Learning Community)
Konsep Learning Community menyarankan
agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil
belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang
sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen
masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas,
2003).
5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan
dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan
tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara
mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam
arti guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam
pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat
dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut
Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula
dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru
siswa digolongkan menjadi :
1.
Kehidupan yang nyata (real
life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
2.
Simbolik (symbolic),
model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
3.
Representasi (representation),
model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya
televisi dan radio.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi
merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir
kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan
apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur
pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan
sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada
kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir
pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi
yang realisasinya dapat berupa :
1.
Pernyataan langsung
tentang apa-apa yang diperoleh pada pembelajaran yang baru saja
dilakukan.;
2.
Catatan atau jurnal di
buku siswa;
3.
Kesan dan saran mengenai
pembelajaran yang telah dilakukan.
7. Penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian
autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa
telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada
proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari
kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment menurut
Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar
berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan
dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi,
dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic assessment biasanya
berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau
penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya
tulis.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Pendekatan
Kontekstual. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual.
Jakarta : Departemen Pendidikan
Nasional.
Pengertian
Menurut Nur Hadi CTL
adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi
yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.Menurut Jonhson CTL adalah sebuah
proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa
melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian
mereka. Jadi pengertian CTL dari pendapat para tokoh-tokoh diatas dapat
kita simpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan
antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan
dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan
1.
Model pembelajaran CTL
ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan
mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang
secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
2.
Model pembelajaran ini
bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu
dengan adanya pemahaman
3.
Model pembelajaran ini
menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
4.
Model pembelajaran CTL
ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam
memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
5.
Model pembelajaran CTL
ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
6.
Model pembelajaran model
CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan
materi akademik dengan konteks jehidupan sehari-hari
7.
Tujuan pembelajaran model
CTL ini bertujuan agar siswa secara indinidu dapat menemukan dan mentrasfer
informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya
sendiri.
Strategi
Pembelajaran CTL
Beberapa strategi
pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara konstektual antara lain:
a.
Pembelajaran berbasis masalah
Dengan memunculkan
problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk
memecahkan.
b.
Menggunakan konteks yang beragam
Dalam CTL guru membermaknakan
pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.
c. Mempertimbangkan
kebhinekaan siswa
Guru
mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan social
seyogianya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar
saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.
d. Memberdayakan
siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan formal
merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk
belajar mandiri dikemudian hari.
e. Belajar
melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi
selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini
dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
f. Menggunakan
penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan
bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi
kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.
g. Mengejar
standar tinggi
Setiap seyogianya
menentukan kompetensi kelulusan dari waktu kewaktu terus ditingkatkan dan
setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melukan study banding
keberbagai sekolah dan luar negeri.
Berdasarkan Center for
Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi
pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:
a. Relating
Belajar dikatakan dengan
konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang
dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang dipelajarinya
bermakna.
b.
Experiencing
Belajar adalah kegiatan
“mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya
dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan
dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.
c.
Applying
Belajar menekankan pada
proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki dengan dalam konteks dan
pemanfaatanya.
d. Cooperative
Belajar merupakan proses
kolaboratif dan kooperatif melalui kegiatan kelompok, komunikasi interpersonal
atau hubunngan intersubjektif.
e. Trasfering
Belajar menenkankan pada
terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar